JAKARTA, Beritasatu.com – Pengamat pendidikan Henny Supolo Sitepu menolak rencana Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah yang akan kembali menerapkan Ujian Nasional (ONU) di sekolah. Ia menilai tidak adil jika ujian nasional dijadikan standar pembelajaran siswa, dan kualitas pendidikan di setiap sekolah berbeda-beda.  

Read More : Efisiensi Anggaran, Investor Tunggu Kejelasan Kebijakan Pemerintah

“Kalau kita mau apply lagi (PBB), tujuannya apa, soalnya UN itu dijadikan sertifikat, sebenarnya,” kata Henny Sitepu dalam acara “Berita Satu Siang” BTV, Senin (18/11). , 2024). “

Mr Henney mengatakan standar pendidikan sangat bervariasi dari satu sekolah ke sekolah lainnya. Begitu pula dengan kualitas guru atau pendidik, sarana dan prasarana, serta pendanaan.

“Kalau situasinya tidak sama, bagaimana bisa dijadikan standar ijazah?” 

Henney mengamini UN dilakukan untuk memetakan atau memahami mutu pendidikan sekolah satu dengan sekolah lainnya sehingga pemerintah mengetahui di mana setiap sekolah perlu perbaikan. 

Misalnya daerah mana yang sangat membutuhkan bantuan, daerah mana yang membutuhkan tenaga pengajar yang lebih baik, daerah mana yang membutuhkan perbaikan infrastruktur, kata Henney.

Read More : Gara-gara Emblem, Mobil China Ini Hanya Terjual 70 Unit di Indonesia

Di sisi lain, Henny mengatakan sangat tidak adil jika ujian nasional dijadikan simbol pendidikan siswa Indonesia. “Tidak adil melakukan standarisasi jika sampai saat ini standarnya belum ada.

Sebelumnya, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdelmuti mengatakan, pihaknya tengah melihat keberhasilan pelaksanaan ujian nasional kembali.

“Kita masih mempertimbangkan PBB, nanti kita bicarakan dengan peneliti dan politisi,” kata Muti di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (11 Juni 2024).

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *