Jakarta, Beritasatu.com – Daftar lima orang terkaya di Indonesia versi Forbes mengalami perubahan. Kekayaan pemilik grup, Jarom Hartono bersaudara, mendorong Low Tak Kwong Coal Company menduduki posisi kedua dan ketiga. Sedangkan Lu turun ke peringkat keempat.

Read More : Harga Bawang Merah Naik, Pemerintah Tolak Impor

Sedangkan orang terkaya di Indonesia dalam daftar tersebut masih dipegang oleh pemilik Barito Group, Prajugo Pangstu. Di posisi kelima ada Sri Pakash Lohia, pengusaha tekstil pemilik Indorama.

Berdasarkan Forbes Real Time Billionaires Report yang dipantau Beritasatu.com, Rabu (26/6/2024), Prajugo Pangstu masih menjadi orang terkaya di Tanah Air dengan kekayaan sebesar $63,5 miliar (Rp 1,043 triliun). Hal ini sekaligus menjadikannya orang terkaya ke-24 di dunia. ย 

Sedangkan R Budi Hartono memiliki kekayaan bersih US$23,6 miliar (Rs 387 triliun) dan Michael Hartono memiliki kekayaan bersih US$22,1 miliar (Rs 387 triliun). Sedangkan kekayaan Low Tak Kwong turun dari peringkat kedua ke peringkat keempat dengan US$20,8 miliar (Rp 341 triliun). Sri Pakash Lohia berada di peringkat kelima dengan kekayaan bersih $8,1 miliar (Rs 133 triliun).

Kekayaan Prajugo Panjesto hanya berbeda tipis dengan pengusaha Amerika Charles Koch dan keluarganya yang berada di peringkat 25 dengan kekayaan $59,0 miliar. Charles dan keluarganya saat ini mengawasi bisnis di bidang peralatan dan teknologi, polimer dan serat, mineral, pupuk, barang dan jasa, peternakan dan kehutanan.

Tentang Prajugo Prajugo, lahir di Bangkayang, Kalimantan Barat, adalah pendiri Barito Pacific Group. ย Saat ini Prajugo menjabat sebagai Komisaris Utama PT Barito Pacific Tbk sejak tahun 1993.ย 

Kenaikan kekayaan Prajogo Pangestu seiring dengan kenaikan harga saham emitennya PT Petrosea Tbk (PTRO), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific. Saham Tbk (TPIA) dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) menguat 33,98%.

Menurut People of Chinese Origin in Southeast Asia: A Biographical Dictionary (2012) karya Suryadinata, dari Fortune Indonesia, Prajugo mengadu nasib di Jakarta pada awal tahun 1960-an. Ia bekerja sebagai pengumpul dan penjahit lateks karet.

Read More : IHSG Turun Tipis ke 7.829, Ini 5 Saham yang Kasih Cuan Besar

Kondisi ekonomi membuat pendidikan formal sulit baginya. Ia baru bisa masuk sekolah dasar di Bang Kiang, Kalimantan Barat pada usia 9 tahun. Prajugo juga harus bekerja paruh waktu untuk menyelesaikan sekolah menengahnya.

Setelah tamat SMA, Prajugo mengelola usaha kecil-kecilan di kampung halamannya. Karena tidak puas dengan dirinya sendiri, ia pindah ke Jakarta dan mencoba menjalankan bisnis emas bersama saudaranya. Namun takdir membawanya ke kampung halamannya. Prajugo kemudian bekerja sebagai sopir jalur Singkawang-Puntianak, berjualan berbagai kebutuhan.

Hidupnya berubah pada akhir tahun 1960-an ketika ia bertemu Burhan Orai, pendiri kelompok Djajanti. Ia bekerja di seorang taipan kayu sebelum diangkat menjadi general manager PT Nusantara Plywood, sebuah perusahaan Jajanti di Surabaya pada tahun 1976.

Prajugo kemudian mendirikan CV Pacific Lumber Company pada tahun 1977, yang kemudian berganti nama menjadi PT Barito Pacific Timber Company.

Saat ini PT Barito Pacific Tbk (BRPT) telah menjadi perusahaan dengan bisnis yang terdiversifikasi.ย 

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *