Jakarta, Beritasatu.com – Program pangan bergizi gratis yang diusung Presiden terpilih Prabowo Subianto akan memanfaatkan jaringan Komando Distrik Militer (Kodim) se-Indonesia sebagai dapur percontohan. Program yang ditujukan kepada jutaan anak sekolah di seluruh Indonesia ini juga mencakup perekrutan juru masak yang dilakukan oleh politikus Kamrussamad dari Universitas Pertahanan (Unhan) Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Economic Outlook Forum 2025 di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta pada Senin (26/8/2024). โ€œPemerintah akan menggunakan 313 Kodim sebagai dapur uji program makan gratis. Diperkirakan sekitar 100 dapur akan siap pada bulan September, dan program ini akan dimulai pada 21 Oktober, sehari setelah pelantikan Prabowo,โ€ ujarnya. .

Read More : Indonesia Masuk Anggota G-20, Probowo: Tak Pantas Rakyat Lapar dan Hidup Miskin

Kamrussamad menambahkan, Universitas Pertahanan bertugas merekrut dan melatih juru masak, sehingga akan menciptakan lapangan kerja baru. Pemerintah juga mendorong sektor manufaktur untuk menyediakan peralatan memasak untuk program ini.

โ€œMenunya sudah ditentukan, dan bahan yang disediakan diharapkan berasal dari petani lokal. Modalnya bisa menggunakan skema Kredit Usaha Rakyat (KUR),โ€ lanjut Kamrussamad.

Dia menambahkan bahwa perusahaan jasa transportasi lokal juga akan terlibat dalam pengiriman, dan sebuah aplikasi direncanakan untuk memantau proses distribusi.

Sebelumnya, Kementerian Pertanian menyatakan sedang mencari lahan seluas 1,5 juta hektar untuk peternakan sapi perah untuk mendukung program yang juga mencakup impor 1,5 juta sapi perah.

Read More : Menkomdigi Menangis Meminta Maaf Anak Buahnya Terlibat Judi Online

Pemerintahan Presiden Joko Widodo yang akan segera berakhir telah mengalokasikan Rp71 triliun dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2025 untuk program ini.

Uji coba program makan gratis ini sedang berlangsung di berbagai sekolah dasar di Indonesia, dengan biaya per porsi di SDN 4 Tangerang sebesar Rp 15.000. Prabowo berencana melanjutkan uji coba ini hingga Oktober untuk menentukan jadwal implementasi paling efektif untuk program ambisius tersebut, yang bertujuan mencakup sekitar 82,9 juta mahasiswa program sarjana hingga tahun 2029, dengan total anggaran diperkirakan mencapai Rp 400 triliun.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *