JAKARTA, BERASATATU.COM – Area bedah di sekitar banjir yang telah mempengaruhi Pusat Olahraga Pemuda (GON) karena banjir yang mempengaruhi wilayah tersebut. Hujan deras mencapai puncak sungai di hari -hari terakhir
Read More : Tarif Tol Dalam Kota di Jakarta Naik hingga Rp 1.500 Mulai 22 September 2024
Pemantauan Pengungsi Pemimpin menunjukkan pengungsi anak -anak kepada para penatua tua, sehingga beberapa orang menggunakan penggemar kecil untuk mengurangi ketidakpuasan mereka. Sebagian besar tidak bisa pulang karena airnya masih pasukan.
Meskipun makanan, makanan, dan makanan telah mengeluh, beberapa korban banjir mengeluh tentang kurangnya pakaian dan kebutuhan anak -anak.
“Sejak awal, tidak dapat berpakaian, bumper, redvers, kebun anggur bersih, alat bersih,” keluh bahwa para pengungsi tidak mengeluh dan Pengurn Han di Pengurnayan.
Kurangnya peralatan masa kanak -kanak dan kebutuhan dasar lainnya menyulitkan ibu. Beberapa anak memulai masalah lembut dengan masalah yang bersih dan nyaman karena masalah yang lembut, seperti pilek, seperti angin.
Salah satu pengungsi DWI Setno tampaknya menikmati matahari di halaman dengan anak cacat. Dia menyatakan bahwa dia menghadapi bencana alam, terutama karena banjir organisasinya.
“Pada saat yang sama, anak saya akan dinonaktifkan. Tapi apa lagi yang bisa dilakukan, dia harus hidup.” Katanya.
Meskipun DWI masih seorang anak dalam pembatasan, sehingga anak itu membosankan.
“Setiap bulan sore itu saya memanggilnya kebosanan
Read More : Persiapan Retret, 505 Kepala Daerah Akan Berkumpul di Wisma Sumbing sebelum Masuk Lokasi Pembekalan
Banjir Jakara di bulan Ramadhan menerima pengungsi untuk pengungsi di Ramadhan. Namun, mereka masih berusaha belajar.
“Karena Ramadhan dimulai dengan bencana. Tapi keduanya.
Meskipun mereka berlari di kamp lari, penduduk terus berpuasa. Makanan Sasha dan kerusakan pada makanan, sementara anak -anak dan penghuni yang tidak mendapatkan hari tambahan.
Mencatat bahwa agen manajemen bencana regional (BPBD) dipengaruhi oleh Jakhar Selatan di 11 RT di barat daya, termasuk empat RT di desa Peenangora. Di antara pembatasan pengungsi adalah harapan bahwa badai akan segera menyadari bahwa mereka dapat kembali ke rumah.
“Semoga (banjir Jakarta) dengan cepat selesai sehingga kita bisa cepat di rumah. Jangan biarkan bencana tidak mengikuti,” Dwi berharap.