Jakarta, Beritasatu.com – Indeks Kesetaraan Gender (IKG) Indonesia akan berkembang ke arah positif pada tahun 2023 yaitu mencapai 0,447 poin. Angka ini juga menandai peningkatan kesenjangan gender selama enam tahun berturut-turut.

Read More : Profil Edriana Noerdin, Aktivis Perempuan yang Diklaim Jadi Menteri Kabinet Prabowo

Pj Direktur BPS Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan Indeks Kesetaraan Gender merupakan indikator turunan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang mencerminkan kinerja gender. Di tingkat global, UNDP mengukur kesenjangan gender dengan menggunakan Indeks Ketimpangan Gender (GII).

Mirip dengan GII, Indeks Ketimpangan Gender BPS mengukur kesenjangan gender dalam tiga dimensi, yaitu kesehatan reproduksi, pemberdayaan, dan pasar tenaga kerja. Perbedaannya terletak pada masing-masing indikator, terutama pada dimensi kesehatan produksi, karena BPS menggunakan dua indikator proksi. Semakin kecil nilai indeks ketimpangan gender, maka semakin rendah pula ketimpangan antara laki-laki dan perempuan.

Pada tahun 2023, nilai Indeks Kesetaraan Gender Indonesia sebesar 0,447, turun 0,012 poin dibandingkan tahun 2022 yaitu sebesar 0,459. “Perbaikan ini dipengaruhi oleh kesetaraan kinerja di seluruh dimensi indeks kesenjangan gender,” kata Amalia dalam konferensi pers hybrid di Jakarta, Senin (6/5/2024).

Jika dilihat pertama pada dimensi pencapaian komponen kesehatan reproduksi, proporsi perempuan usia 15 sampai 49 tahun yang tidak melahirkan anak terakhirnya di fasilitas kesehatan (MTF) dalam dua tahun terakhir adalah sebesar 12,80%. Kemudian proporsi perempuan umur 15 sampai 49 tahun yang melahirkan anak pertama hidup <20 tahun adalah sebesar 25,80%.

Kedua, proporsi penduduk laki-laki yang mempunyai gelar sarjana atau lebih tinggi karena mencapai dimensi pemberdayaan adalah sebesar 42,62%. Sedangkan persentase penduduk perempuan yang berpendidikan perguruan tinggi ke atas sebesar 37,60%. Proporsi penduduk laki-laki di legislatif sebesar 77,86% dan proporsi penduduk perempuan di legislatif sebesar 22,14%.

Ketiga, indikator pencapaian dimensi pemberdayaan. Tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) laki-laki sebesar 84,26%. Sedangkan untuk perempuan, TPAK-nya sebesar 54,52%.

“Ketimpangan gender di Indonesia terus menurun selama enam tahun terakhir. “Pada tahun 2018 hingga tahun 2023, indeks kesenjangan gender mengalami penurunan sebesar 0,052 poin atau rata-rata penurunan sebesar 0,01 poin per tahun,” kata Amalia.

Read More : Viral Masjid di Sukoharjo Dapat Rating Buruk di Google Maps, Ini Standardisasi Masjid di Indonesia

Menurutnya, keberhasilan ini menunjukkan bahwa kesenjangan gender semakin mengecil dan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan semakin membaik. Hal ini dibuktikan dengan kemajuan yang dicapai pada dimensi pasar kerja, dimana TPAK perempuan semakin meningkat dan tingkat pendidikan minimal menengah yang terus meningkat.

Secara dimensi, ketiga dimensi indeks kesetaraan terus mengalami peningkatan. Dimensi kesehatan reproduksi semakin meningkat dan risiko bagi perempuan terkait kesehatan reproduksi juga semakin menurun. Dimensi pemberdayaan dan pasar tenaga kerja kini semakin mirip.

Secara geografis, terdapat 14 provinsi yang indeks kesenjangan gendernya lebih baik atau lebih rendah dari nilai nasional. Sedangkan sisanya masih di atas nilai nasional.

Indeks kesenjangan gender akan mengalami penurunan di 29 provinsi pada tahun 2023, dengan penurunan terbesar terjadi di Provinsi DI Yogyakarta sebesar 0,098. Sementara itu, indeks kesenjangan gender tercatat mengalami peningkatan di lima provinsi lainnya, dengan peningkatan tertinggi terjadi di provinsi Kalimantan Tengah sebesar 0,015.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *