Luwu, Beritasatu.com – Korban banjir bandang dan tanah longsor di Kecamatan Latimojong, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, yang diisolasi sejak Jumat (3/5/24), terus berupaya mengungsi sendiri dengan membawa serta anggota keluarganya. mereka.

Read More : Minta Tambahan Anggaran Rp 100 M, BPIP Bayar YouTuber danTikToker Rp 45 M

Seperti salah satu penyintas asal Desa Tibussan yang berjalan sekitar 3 jam sambil menggendong bayinya yang berusia lima bulan hingga ke tempat terakhir di Desa Kadundung.

Korban yang selamat bertekad untuk membawa anaknya, meski harus melewati hutan dan berjalan di antara tebing yang terkikis longsor yang sewaktu-waktu bisa mengancam nyawa. 

Ia berjalan kaki karena lelah menunggu evakuasi udara dengan helikopter karena petugas evakuasi udara hanya mengutamakan lansia dan orang sakit.

Sementara itu, situasi warga di Desa Lambanan semakin memprihatinkan. Mereka masih bertahan dengan kondisi logistik yang terbatas tanpa adanya peralatan penerangan.

Mereka mulai lelah, akibat sulitnya akses menuju titik distribusi logistik di lokasi helipad, sehingga memutuskan untuk tidak membawa bantuan lagi ke lokasi. Kini para penyintas hanya mengandalkan makanan seadanya seperti sayuran untuk bertahan hidup.

Hal ini berbanding terbalik dengan akumulasi bantuan logistik di posko utama tanggap bencana Sulsel di lapangan Andi Djemma, Belopa.

Pantauan Beritasatu.com, terlihat tumpukan kebutuhan pangan dan pengungsi mulai menumpuk dan menunggu distribusi logistik, baik melalui jalur darat maupun udara.

Kepala Desa Lambanan, Burhanudin mengatakan, masyarakat bertahan dengan kondisi yang mereka alami di kamp pengungsian yang didirikan secara mandiri.

“Masyarakat di sini bosan menuju tempat pengambilan logistik karena berjalan kaki sekitar empat jam untuk sampai ke kantor camat, sehingga mereka memutuskan untuk menanggung kondisi tersebut,” ujarnya, Sabtu (11/5/2024).

Read More : PN Jakarta Selatan: Belum Ada Gugatan Cerai Atas Nama Ruben Onsu yang Disampaikan Sarwendah

Burhanudin menjelaskan, distribusi logistik kepada para pengungsi belum merata di kalangan masyarakat terdampak, meski mereka berjalan kaki menuju lokasi di kantor camat.

“Distribusi logistik kepada masyarakat terdampak tidak merata, misalnya bantuan yang diserahkan kemarin tidak ada yang sampai ke kami,” jelasnya.

Burhanudin mengatakan, hampir seluruh masyarakat di Desa Tibussan dan Buntu Sarrek memilih keluar desa untuk mengungsi mandiri karena kendala logistik dan kesehatan.

“Hampir seluruh masyarakat di Desa Tibussan dan Buntu Sarrek memutuskan untuk mengungsi. Namun kami memutuskan untuk tetap tinggal karena ingin melihat apakah pemerintah setempat peduli terhadap masyarakat,” tutupnya.

Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Kabupaten Luwu mengakibatkan 13 orang meninggal dunia. Selain itu, saat ini terdapat empat desa di Kecamatan Latimojong dan satu desa di Kecamatan Suli Barat yang masih terisolasi.

Desa-desa di Kecamatan Latimojong yang dapat ditempuh per negara dengan sepeda trail dan berjalan kaki adalah Pajang, Ulusalu, Bone Posi, Pangi, Buntu Sarrek, Rante Balla, Kadunddung dan Tolajuk.

Sementara empat desa yang masih terisolir di Kecamatan Latimojong Kabupaten Luwu yakni Lambanan, Tibussan, Tabang dan Tobaru, sedangkan satu desa di Kecamatan Suli Barat masih terisolir yaitu Desa Poringan.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *