Jakarta, Beritasatu.com – Sebuah video viral di media sosial baru-baru ini memperlihatkan seorang pemilik tempat penitipan anak di kawasan Harjamketi, Chimings, Kota Depok, awal MI yang juga berada di bawah pengaruh orang tua, dengan balita M (2).
Read More : Apakah Cuka Sari Apel Aman untuk Lambung?
Bareskrim Polres Metro Depok menetapkan MI sebagai tersangka pada Rabu (31/07/2024) pukul 22.00 WIB. Fenomena kekerasan terhadap anak ini sudah menjadi perhatian masyarakat, khususnya bagi para ibu yang memiliki anak.
Kebanyakan kekerasan terhadap anak melibatkan setidaknya satu dari enam jenis kekerasan pribadi yang biasanya terjadi pada berbagai tahap perkembangan anak.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengelompokkan jenis-jenis kekerasan terhadap anak berikut ini.
Jenis-Jenis Kekerasan Terhadap Anak 1. Penganiayaan (termasuk hukuman yang kejam) Pelecehan mencakup kekerasan fisik, seksual, psikologis atau emosional, serta penelantaran terhadap bayi, anak-anak dan remaja oleh orang tua, wali dan pihak berwenang lainnya.
Kekerasan ini sering terjadi di rumah, namun bisa juga terjadi di lingkungan seperti sekolah dan panti asuhan. Kekerasan fisik melibatkan pemukulan atau tindakan yang menyebabkan cedera fisik, sedangkan kekerasan seksual melibatkan kontak atau perilaku seksual yang tidak diinginkan. Pelecehan mental atau emosional mencakup pelecehan, ancaman, dan penolakan yang dapat membahayakan kesehatan mental anak.
2. Bullying (termasuk cyberbullying) Bullying adalah perilaku agresif yang tidak diinginkan yang dilakukan oleh anak lain atau sekelompok anak yang bukan saudara kandung atau mempunyai hubungan keluarga dengan korban.
Penindasan melibatkan kekerasan fisik, psikologis, atau sosial yang berulang dan sering terjadi di sekolah, tempat anak-anak berkumpul dan di Internet (penindasan siber). Penindasan siber terjadi melalui media sosial, pesan teks, atau platform online lainnya dan bisa sangat berbahaya karena dapat terjadi secara tidak sengaja dan di luar pengawasan orang dewasa.
3. Kekerasan terhadap remaja Kekerasan ini terjadi pada anak-anak dan remaja berusia 10-29 tahun, seringkali antara kenalan dan orang asing dalam lingkungan masyarakat. Hal ini termasuk penindasan dan penyerangan fisik, dengan atau tanpa senjata, seperti senjata api dan pisau, dan mungkin juga termasuk kekerasan geng. Kekerasan ini seringkali disebabkan oleh konflik kelompok, masalah sosial atau lingkungan yang kurang mendukung.
4. Kekerasan Pasangan Intim (atau Kekerasan Dalam Rumah Tangga) Kekerasan pasangan intim mencakup kekerasan fisik, seksual, dan emosional yang dilakukan oleh pasangan intim atau mantan pasangannya. Meskipun laki-laki juga bisa terkena dampaknya, kekerasan yang dilakukan oleh pasangan intim sebagian besar menimpa perempuan, termasuk anak perempuan yang menikah dini dan menikah paksa.
Di kalangan remaja yang menjalin hubungan asmara namun belum menikah, kekerasan ini sering disebut kekerasan dalam hubungan dan dapat mencakup kontrol, kecemburuan yang berlebihan, serta kekerasan fisik dan emosional.
Read More : Selamat, Denny Cagur Resmi Dilantik Jadi Anggota DPR
5. Kekerasan emosional atau psikologis Kekerasan ini mencakup pembatasan gerak anak, penghinaan, ejekan, ancaman, intimidasi, diskriminasi, penolakan dan bentuk permusuhan non fisik lainnya. Pelecehan emosional dapat merusak harga diri anak, menghambat perkembangan emosi dan sosial, serta menyebabkan masalah kesehatan mental jangka panjang.
Dampak kekerasan terhadap anak 1. Mengakibatkan kematian Pembunuhan adalah salah satu penyebab utama kematian di kalangan anak muda, sering kali disebabkan oleh senjata seperti pisau dan pistol. Lebih dari 80% korban dan pelaku adalah anak laki-laki. Pembunuhan yang terjadi biasanya diakibatkan oleh kekerasan remaja atau kekerasan geng.
2. Untuk setiap pembunuhan yang menyebabkan cedera serius, ratusan anak muda menjadi korban kekerasan, banyak dari mereka adalah anak laki-laki, yang terluka dalam perkelahian dan serangan fisik. Cedera ini dapat berdampak jangka panjang pada kesehatan fisik dan mental mereka.
3. Mempengaruhi perkembangan otak dan sistem saraf Paparan kekerasan pada usia muda dapat mempengaruhi perkembangan otak dan merusak bagian lain dari sistem saraf, termasuk sistem endokrin, peredaran darah, muskuloskeletal, reproduksi, dan sistem pernapasan. Hal ini dapat mengakibatkan terhambatnya perkembangan kognitif, rendahnya prestasi pendidikan dan kejuruan, serta masalah kesehatan jangka panjang.
4. Konsekuensi Negatif terhadap Perilaku dan Risiko Kesehatan Anak-anak yang menjadi korban kekerasan lebih besar kemungkinannya untuk merokok, menyalahgunakan alkohol dan obat-obatan terlarang, serta terlibat dalam perilaku seksual berisiko tinggi. Mereka juga memiliki tingkat kecemasan, depresi, masalah kesehatan mental lainnya, dan risiko bunuh diri yang lebih tinggi.
5. Penyebab Kehamilan Tidak Diinginkan Paparan kekerasan dapat menyebabkan kehamilan yang tidak diinginkan, kehamilan yang diinduksi, masalah ginekologi dan infeksi menular seksual, termasuk HIV. Hal ini sering terjadi pada anak perempuan yang mengalami kekerasan seksual.
6. Berkontribusi terhadap berbagai penyakit tidak menular Seiring bertambahnya usia anak, risiko penyakit jantung, kanker, diabetes, dan kondisi kesehatan lainnya meningkat. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh sikap negatif terkait kekerasan dan perilaku berisiko kesehatan.
7. Peluang Dampak dan Dampak terhadap Generasi Mendatang Anak-anak yang terkena kekerasan lebih besar kemungkinannya untuk putus sekolah, kesulitan mendapatkan dan mempertahankan pekerjaan, dan lebih besar kemungkinannya menjadi korban atau pelaku kekerasan pribadi dan antarpribadi di kemudian hari bahaya. . Kekerasan terhadap anak dapat berdampak pada generasi berikutnya dan menciptakan siklus kekerasan yang berkelanjutan.