Jakarta, Beritasatu.com – Penyanyi Via Wallen masih muak dengan aktivitas adiknya, Rafi Pratama, yang kerap menghambur-hamburkan uang dan ingin hidup berkecukupan tanpa pekerjaan. Namun di satu sisi, Via mendapat kecaman dari sebagian keluarganya karena diduga kejam terhadap saudara-saudaranya. Ia pun merasa tumbuh dalam keluarga yang egois.
Read More : Rusia Skeptis Donald Trump Bisa Selesaikan Perang di Ukraina
Perasaannya diungkapkan Via Vallen melalui postingan di channel Instagram @viavallen yang dirilis pada 28 April 2024.
Pemilik nama lengkap Maulidia Octavia itulah yang membuatnya selalu dikritik dan keluarganya tidak memahami perjuangannya membantu kebutuhan keluarga, terutama saudara-saudaranya.
Viya menjelaskan, dirinya dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan yang egois. Ia percaya bahwa gangguan kepribadian narsistik (NPD) adalah bagian dari keluarganya. Ada keadaan mental di mana seseorang secara emosional terfokus pada kebutuhannya sendiri.
“Saya dikelilingi orang-orang yang egois. Psikopat yang ciri-cirinya sama dengan penderita NPD. Jadi, seberapa pun menderitanya kami, mereka tidak peduli,” kata Via Wallen dan Beritasatu.com, Rabu (1/5). ).
Merasa diabaikan atau diabaikan oleh orang-orang terdekatnya, Via merasa lelah. Penyanyi Meraih Bintang merasa telah bekerja keras dengan banyak bantuan, meski tidak dihargai.
Tak berhenti sampai disitu, Via juga pernah terlibat kasus Rafi Prathama belakangan ini. Kakaknya berhasil merampas sepeda motor orang lain hingga rumahnya diserang massa.
Read More : 17 Tewas Akibat Tertimpa Gunung Sampah di Uganda
Via Vallen menjelaskan, kasus taruhan motor yang dialami kakaknya disebabkan kecanduan judi online.
Ya, karena tidak mungkin sulit, saya ingin terus bahagia, kata wanita kelahiran Surabaya, 1 Oktober 1991 itu.
Diakui Via, belakangan ini ia bekerja keras untuk Rafi, yakni dengan mengambil seluruh perlengkapan yang diberikannya selama ini. Ia terpaksa melakukan semua itu karena adiknya hanya ingin hidup dan tidak berdaya.
“Sudah waktunya untuk menonaktifkan gedung tersebut, dan kami ingin itu dilakukan sesegera mungkin.” Dia bermain judi online tanpa uang dan membersihkan segala sesuatu di rumah. Apakah orang seperti ini masih mau memberikan hati?