JAKARTA, Beritasatu.com – Unilever akan membayar US$ 150 juta atau sekitar Rp. 2,4 triliun pada tahun 2027 untuk mempromosikan penggunaan energi baru terbarukan secara global.

Read More : KPK Periksa Direktur Utama PT Loco Montrado Siman Bahar Terkait Kasus Korupsi PT Antam

“Ini merupakan langkah menuju dekarbonisasi energi,” kata Direktur dan Sekretaris Perusahaan Unilever Indonesia Tbk Nurdiana Darus dalam obrolan virtual bertajuk “Target dan Update Net Zero Emissions” di Jakarta, yang diumumkan pada Jumat (19/7/). 2024).

Ia mengatakan, investasi ini bertujuan untuk mengurangi emisi dari bahan pendingin. Langkah tersebut sejalan dengan rencana perusahaan untuk mencapai netralitas karbon pada tahun 2039.

Menurutnya, tujuan tersebut dapat dicapai dengan mengurangi emisi operasional Unilever sebesar 100 persen pada tahun 2030. Perusahaan ini akan mengurangi emisi dari energi dan industri sekitar 42 persen pada tahun 2030.

“Target ini mencakup emisi gas rumah kaca dari pembelian jasa dan barang terkait pengemasan, transportasi, bahan baku, dan distribusi hulu,” ujarnya.

Pada saat yang sama, Fabron Siregar, direktur PT Wartsila Indonesia, sebuah perusahaan pemasok teknologi energi Finlandia, mengatakan bahwa banyak langkah untuk mencapai nol emisi adalah dengan meningkatkan penggunaan energi terbarukan, menyediakan mesin dan penyimpanan yang fleksibel, dan mengurangi penggunaan batu bara. . .

Read More : Disdukcapil Sambut Positif Penurunan Urbanisasi 2024 di Jakarta

Saat ini, sebagian besar negara di ASEAN menargetkan emisi bersih di atas tahun 2050, dengan pertumbuhan beban tahunan yang masih bergantung pada bahan bakar fosil. “Tantangan terbesarnya adalah ketidakstabilan pasokan dari turbin angin dan tenaga surya,” katanya.

Sementara itu, International Association of Business Correspondents (IABC) Indonesia Chapter President Elvera N. Makki mengatakan IABC Indonesia menaruh perhatian terhadap keberlanjutan, termasuk ESG, di Indonesia karena berdampak besar pada kehidupan masyarakat saat ini. masa depan

Komunikasi memainkan peran penting dalam mengartikulasikan tindakan keberlanjutan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan perusahaan di sektor-sektor untuk mencapai target emisi nol bersih di Indonesia pada tahun 2060.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *