JAKARTA, Beritasatu.com – Pembuat konten Irwan Prasetiyo mengungkap dampak penghapusan kebijakan ujian nasional oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbubdristek) sejak tahun 2021. Universitas-universitas di Jerman diturunkan peringkatnya.

Read More : Meluncur 15 Juli, Baterai Honor X70 Pecahkan Rekor

“Ijazah SMA kita dianggap sebagai kelas bawah dan hanya bisa digunakan untuk masuk ke SMA atau Universitas Ilmu Terapan,” Beritasatu.com mengutip Irwan dalam postingan di akun Instagram miliknya, Minggu (22/9/). 2024).

Maklum, mulai tahun 2021, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengganti ujian nasional dengan asesmen keterampilan minimal dan survei kepribadian. Penilaian baru ini bertujuan untuk memetakan dan meningkatkan kualitas pendidikan di tingkat nasional.

Irwan Prasetiyo mengatakan kebijakan tersebut berdampak buruk bagi lulusan sekolah menengah yang ingin melanjutkan studi ke luar negeri, khususnya di Eropa.

“Dalam website resmi University of Twente jelas disebutkan bahwa karena tidak ada ujian nasional, maka lulusan SMA Indonesia setelah tahun 2020 tidak bisa langsung masuk universitas,” kata Irvan.

Ia menambahkan, permasalahan tersebut muncul karena pendidikan menengah di Indonesia dianggap tidak lagi setara dengan standar pendidikan Belanda. Dalam bahasa Belanda, hogeschool mengacu pada lembaga pendidikan yang berfokus pada penerapan praktis seni dan sains serta mempersiapkan siswa untuk karir tertentu. Situasi serupa terjadi di Jerman.

Sejak penghapusan ujian negara, persyaratan untuk masuk ke perguruan tinggi mahasiswa (lembaga pendidikan khusus yang mempersiapkan siswa untuk masuk perguruan tinggi) telah berubah secara signifikan. Sebelumnya, nilai minimal untuk masuk lulusan sekolah menengah Indonesia adalah 60 poin, namun kini standar nilai tersebut dinaikkan menjadi 85 poin.

Pesan Irwan langsung menuai reaksi dari warganet. Banyak di antara mereka yang mengungkapkan rasa frustasinya atas kesulitan yang dihadapi lulusan sekolah menengah Indonesia untuk melanjutkan studi di Eropa.

Read More : Kemenkes Klarifikasi HMPV yang Merebak di Tiongkok Bukan Virus Baru

“Yang membuat kebijakan ini adalah lulusan Harvard,” kritik akun Instagram @achni***.

“Tanggung jawab ada di @nadiemmakarim. Jangan diam,” tulis akun @idih***.

“Sekarang siapa yang bertanggung jawab? Rakyat selalu jadi korban,” kata akun @aidrag***.

Hingga Minggu (22/9/2024), unggahan Irwan Prasetiyo telah disukai 24.645 pengguna Instagram dan mendapat ratusan komentar, sebagian besar mengungkapkan kekecewaan atas semakin sulitnya lulusan SMA Indonesia melanjutkan studi ke Jerman, Belanda.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *