Jakarta, Beritasatu.com – Komisi Dewan Perwakilan Rakyat XI menilai rancangan perpajakan yang termasuk dalam Program Legislatif Nasional (Prolennas) pada tahun 2025, berdasarkan analisis kebutuhan keuangan negara dan tujuan yang jelas. Dia mengatakan tidak mengizinkan tuan pajak menjadi jalan pintas untuk meningkatkan pendapatan negara.

Read More : Tutup Pekan, IHSG Menguat 0,24 Persen

Wakil Ketua Komisi Dewan Perwakilan Rakyat Xi Hanif Dhakiri, tanpa mereformasi sistem pajak dasar, mengatakan bahwa kebijakan ini memperkuat ketidakpatuhan dengan pajak dan melemahkan kepercayaan pada sistem pajak.

โ€œProposal pajak bukan hanya solusi sementara untuk meningkatkan pendapatan negara. Program ini harus dirancang dengan cermat dan dikombinasikan dengan reformasi komprehensif sistem pajak untuk memiliki dampak positif jangka panjang, kata Hanif, Kamis (11/21/2024).

Indonesia menerapkan program pajak yang sebelumnya besar, yaitu 2016-2017 dan 2022.

Hanif menekankan tiga aspek penting yang harus diperhitungkan. Pertama, sistem perpajakan yang lebih luas harus dimasukkan dalam sistem pajak yang lebih luas. Program ini harus diikuti dengan memperkuat database pembayar pajak, mempercepat pajak digital dan penegakan hukum yang ketat.

“Reformasi ini penting untuk memastikan sistem perpajakan yang lebih kredibel dan secara sukarela dapat mendorong pembayar pajak,” kata Hanif.

Kedua, diskusi tentang RUU ini harus dilakukan secara transparan dan berdasarkan kebutuhan yang jelas. Pemerintah harus menyajikan rincian dan analisis yang tepat tentang efek dan kondisi untuk manfaat kebijakan ini. Ketiga, kebijakan ini harus memiliki keadilan bagi pembayar pajak yang taat.

“Jangan biarkan kesan pajak ketidakseimbangan atau persepsi bahwa non -kompetensi dapat dimaafkan tanpa konsekuensi. Ini dapat merusak kepercayaan publik terhadap sistem pajak,” katanya.

Read More : IHSG Hari Ini Melemah, Sentimen Domestik dan Global Jadi Pemicunya

Namun, RUU ini juga memiliki perpajakan pajak yang mendesak, yaitu untuk menarik dana yang mungkin berada di luar sistem keuangan negara, untuk meningkatkan pendapatan, merangsang pertumbuhan dan pembiayaan negara untuk menguat.

Uang Hitam Hasil praktik untuk mentransfer ekonomi bawah tanah dan ekspor penetapan harga yang diparkir di luar negeri adalah potensi penting yang harus diintegrasikan dengan sistem ekonomi formal.

Hanif mengatakan bahwa segala sesuatu harus dihitung sehingga desain pajak minus dan amnesti harus dipelajari secara mendalam. Meskipun dia memasukkan bukti, dia mengatakan bahwa diskusi tentang RUU ini bergantung pada relevansinya dan mendesak.

“Jika manfaatnya bukan yang terbaik atau bahkan berbahaya, diskusi tentang RUU Taxmannesti dapat ditunda atau bahkan dihapus dari Proleg Nasional. Jika manfaatnya bagus, kami melanjutkan,” kirim Hanif.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *