Jakarta, Beritasatu.com – Center for Economic Reforms (Srj) Indonesia mengingatkan pemerintah harus menerapkan program strategis untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 8% di bawah pemerintahan Presiden terpilih Prabowo Subianto.
Read More : Polisi Ditembak di Lampung, Tim Gabungan Temukan 12 Selongsong Peluru
CEO Core Indonesia Mohammad Faisal mengatakan pertumbuhan ekonomi masih 5% dalam 10 tahun terakhir. Jika pertumbuhan ekonomi masih di kisaran 5%, maka ada risiko meleset dari target pertumbuhan ekonomi 8%.
Oleh karena itu, tidak banyak perubahan dibandingkan 10 tahun terakhir pemerintahan Presiden Jokowi dan risiko ini harus diantisipasi karena pertumbuhan ekonomi kemungkinan akan kembali menurun jika tidak ada kemajuan dari strategi kebijakan, ujarnya. dikatakan Faisal dalam acara Review Tengah Tahun Indonesia 2024 pada Selasa (23/7/2024).
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) menargetkan pertumbuhan ekonomi pada kisaran 5,6% hingga 7,8%, pada tahun 2025-2045. Pada tahap pertama (2025-2029), target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,6% menjadi 6,1%. Pada tahap kedua, pertumbuhan ekonomi ditargetkan pada kisaran 6,9% hingga 7,8%. Fase ketiga (2035-2039) menargetkan pertumbuhan ekonomi pada kisaran 6,4% hingga 7,6%. Pada tahap keempat (2040-2045) targetnya berada pada kisaran 5,4% hingga 6,7%.
Mereka memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2024 berada pada kisaran 4,9% hingga 5%. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan angka pertumbuhan ekonomi pada triwulan I tahun 2024 yang sebesar 5,11%.
“Setelah triwulan I tahun 2024, pertumbuhan ekonomi sebesar 5,11%, pada triwulan II tahun 2024 diperkirakan sebesar 4,9-5%, sehingga terjadi perlambatan. Pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan pada tahun 2024 diperkirakan sebesar 4,9-5 persen,” Faisal dikatakan.
Faktor pendukung pertumbuhan ekonomi triwulan II tahun 2024 adalah konsumsi rumah tangga pada kisaran 4,8% hingga 4,9%; penggunaan rumah tangga nirlaba, 18,4% hingga 20,2%; Belanja pemerintah dari 6,4% menjadi 7,9%; Pembentukan modal tetap bruto berada pada kisaran 4,6% hingga 4,7%, ekspor 1,9%, dan impor 1,8%.
Read More : Persaingan Qualcomm dan MediaTek dalam Teknologi 6G Makin Panas
“Perlambatan tersebut terutama disebabkan oleh perlambatan konsumsi rumah tangga yang merupakan penyumbang PDB terbesar,” ujarnya.
Sebelumnya, Presiden terpilih Prabowo Subianto mengatakan pihaknya optimistis Indonesia bisa mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 8%. Hal ini didukung dengan kemampuannya. Namun untuk mencapai target tersebut diperlukan kerja keras dan pengelolaan keuangan yang baik.
“Kita harus lebih efisien, memerintah dengan lebih baik, dan mengadopsi kebijakan yang masuk akal.” Kita harus bertekad untuk mengurangi kebocoran, mengurangi kecurangan, mengurangi kebijakan-kebijakan yang tidak menguntungkan kepentingan nasional dan kepentingan rakyat, jelas Prabowo.