Jakarta, Beritasatu.com – Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) menghadapi berbagai tantangan dalam pengelolaan dana haji. Salah satunya dengan mendorong biaya yang wajar bagi jamaah haji baik yang berangkat maupun yang menunggu.
Read More : Pantai Bandengan, Destinasi Wisata Favorit Wisatawan Saat ke Jepara pada Libur Nataru
“Yang perlu dipahami adalah perlunya menjaga keberlangsungan keuangan ibadah haji. Sementara nilai pengembalian investasi yang dihasilkan dari penghargaan tersebut masih lebih besar untuk digunakan untuk subsidi penerbangan,” kata Anggota Dewan Pengurus BPKH Acep R. Jayaprawira dalam diskusi dengan topik “Mencari solusi biaya dan masa tunggu haji” secara virtual di Jakarta, Senin (10/6/2024).
Acep mengatakan pemerataan biaya haji merupakan salah satu isu krusial yang harus diatasi untuk meningkatkan kualitas dan efisiensi penyelenggaraan haji. Menurut dia, rasio subsidi yang ideal adalah 70-30. Artinya, jemaah yang berangkat menanggung 70% biaya penyelenggaraan ibadah haji (BPIH). Sedangkan sisa nilai pertunjukan ditanggung oleh asuransi, sehingga share yang dibagikan kepada penonton yang menunggu bisa lebih besar.
Misalnya, BPIH Rp 100.000.000, maka jemaah akan membayar Rp 70.000.000 berdasarkan setoran awal, setoran penuh, dan nilai manfaatnya, maka sisanya Rp 30 juta akan ditanggung oleh BPKH, katanya.
Saat ini hubungan antara penggunaan nilai manfaat dan biaya ibadah haji yang berlangsung selama ini belum ideal. Rata-rata jemaah mengcover 55%, sisanya ditanggung BPF.
Di sisi lain, BPKH saat ini menghadapi beberapa tantangan dalam pengelolaan dana haji. Hal tersebut antara lain permasalahan regulasi yang bersifat mengikat dan berdampak pada terbatasnya kebebasan bergerak sehingga BPKH harus berhati-hati dalam mengelola dana haji. Investasi yang dilakukan BPKH harus dilakukan sesuai syariah. “Kita harus berinvestasi sesuai syariah, tidak ada ribawi. Saat ini pasar keuangan syariah terbatas,” imbuhnya.
Read More : Hari Pertama Masa Tenang Pilkada, Bawaslu Indramayu Tertibkan Ribuan APK Cabup dan Cagub Jabar
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Komnas Haji dan Umrah Mustolih Siradj mengatakan pemerintah harus lebih optimal dalam mengimplementasikan instrumen keuangan yang ada agar bisa memberikan nilai keuntungan yang lebih tinggi.