Jakarta, Beritasatu.com- Berdasarkan pertimbangan geopolitik, pasar obligasi negara (SUN) pekan ini akan terdampak oleh kenaikan obligasi pemerintah AS atau imbal hasil (yield) US Treasury dan sejumlah kebijakan perekonomian nasional. Laju pertumbuhan SUN sepuluh tahun pada minggu ini akan berada pada kisaran 7,02%-7,12%.

Read More : Istana: Penghapusan Kredit Macet Jangkau 600.000 UMKM, Petani, hingga Nelayan

Ekonom Senior PT KB Valbury Sekuritas Fikri C Permana mengatakan pasar surat utang didominasi pengaruh global. Salah satunya dari Amerika yang dalam sepekan terakhir dolar AS mengalami penguatan setelah dua pekan terakhir melemah. Selain itu, salah satu anggota The Fed memberikan pernyataan mengenai penurunan suku bunga alias Fed rate yang akan dilakukan secara hati-hati. “Ini mungkin yang menyebabkan imbal hasil Treasury AS lebih tinggi,” jelas Investor Daily, Minggu (12/5/2024).

Fikri menambahkan, ke depan pasar akan menunggu data indeks harga konsumen dan indeks harga produsen yang menunjukkan harga AS masih tinggi sehingga berkontribusi terhadap pertumbuhan Departemen Keuangan AS. “Fokusnya kini tertuju pada data ekonomi AS dibandingkan geopolitik. Oleh karena itu, harapan peningkatan aliran modal asing ke dalam negeri semakin besar,” tuturnya.

Berkurangnya ketidakpastian global kemungkinan besar akan mengurangi risiko aliran modal dari negara-negara berkembang. Ketika modal kembali masuk ke negara tersebut, harapan akan terjadinya ledakan ekonomi sangatlah tinggi. Melihat situasi perekonomian saat ini, diperkirakan pendapatan dari pasar akan meningkat secara signifikan. “Imbal hasil SUN sudah mencapai lebih dari 7%, bahkan jangka sepuluh tahun berkisar 7,02%-7,12%, angka yang sangat menarik bagi investor asing,” ujarnya.

Read More : Utang Pemerintah Mencapai Rp 266,3 Triliun pada Akhir Juli 2024

Sementara di dalam negeri, pasar surat utang akan berdampak pada data pasar bisnis atau kepercayaan konsumen yang akan dipublikasikan pada Selasa (14/5/2024). Investor baik asing maupun dalam negeri akan terus fokus pada stabilitas rupee. “Meski ada kemungkinan rupee melemah, namun sepertinya tidak terjadi setelah lebaran lalu. Rupee diperkirakan mencapai Rp 16.020 per dolar AS,” ujarnya.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *