Dallas, prestasikaryamandiri.co.id – Kecoa disebut-sebut sebagai serangga yang ahli bertahan hidup di dalam ruangan, bersembunyi di dapur, atau di laci yang apek. Namun studi baru yang diterbitkan Senin (20/5/2024) di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences menunjukkan bahwa hal itu tidak dimulai seperti itu.

Penelitian ini menggunakan genetika untuk memetakan sebaran kecoa di seluruh dunia, mulai dari Asia Tenggara hingga Eropa dan sekitarnya. Temuan ini mencakup sejarah kecoa selama ribuan tahun dan menunjukkan bahwa wabah menyebar ke seluruh dunia melalui perjalanan dari spesies lain, yaitu manusia.

“Ini bukan hanya cerita tentang serangga,” kata Stephen Richards, asisten profesor di Baylor College of Medicine di negara bagian Texas, AS, yang mempelajari gen serangga dan tidak terlibat dalam penelitian tersebut.

“Ini adalah cerita tentang serangga dan kemanusiaan,” katanya.

Para peneliti menganalisis gen 280 kecoa dari 17 negara dan enam benua. Mereka menemukan bahwa kecoa Jerman, spesies yang ditemukan di seluruh dunia, berasal dari Asia Tenggara, kemungkinan berevolusi dari kecoa Asia sekitar 2.100 tahun yang lalu.

Para ilmuwan sudah lama menduga kecoa Jerman berasal dari Asia karena spesies serupa masih hidup di sana.

Kecoa kemudian menjelajahi dunia melalui dua jalur utama. Mereka melakukan perjalanan ke arah barat menuju Timur Tengah sekitar 1.200 tahun yang lalu, kemungkinan merupakan perjalanan dengan keranjang makanan tentara.

Menurut rekonstruksi para ilmuwan dan catatan sejarah, kecoa mungkin bersembunyi di jalur perdagangan Perusahaan Hindia Timur Belanda dan Inggris untuk mencapai Eropa sekitar 270 tahun yang lalu.

Penemuan seperti mesin uap dan pipa ledeng dalam ruangan mungkin membantu serangga melakukan perjalanan lebih jauh dan menemukan kehidupan yang nyaman di dalam ruangan, tempat mereka paling sering ditemukan saat ini.

Para peneliti mengatakan bahwa menyelidiki bagaimana kecoak menguasai lingkungan di masa lalu dapat menghasilkan pengendalian hama yang lebih baik.

Kecoak modern sulit dibasmi karena mereka mampu berevolusi dengan cepat untuk melawan pestisida, menurut penulis studi Qian Tang, seorang peneliti pascadoktoral yang mempelajari serangga di Universitas Harvard.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *