Jakarta, Beritasatu.com- Investasi dan Komite Koordinasi Streaming/Investasi Down (BKPM) jatuh ke 6.076.08 dengan 6.12% atau 396 poin terkait Selasa (CSPI).
Read More : Hasil Liga Europa: Roma dan Lazio Menang Dramatis
Wakil Sekretaris Investasi dan Downflow Tutu Pasaribu mengatakan ada banyak faktor dalam emosi, faktor internal dan global tas. Jika menurut Anda tasnya sangat bersyarat, Todua mengatakan ini tidak terlalu bermasalah.
Todua bertemu pada hari Selasa (18/18/2025) dan bertemu di kantor investasi dan down -streaming.
Selain adanya fenomena ini, Todua mengatakan bahwa pemerintah terus merencanakan dan mempercepat beberapa investasi dan aliran ke bawah. Dalam pikiran, sumber daya Indonesia sangat besar.
Jika aktivitas pemerintah dan hasil kerja terlihat, kepercayaan investor dan pasar akan meningkat dari waktu ke waktu.
“Pasar didasarkan pada kepercayaan diri. Adalah normal bagi pemerintah untuk menyukai pasar dan bagaimana berbicara tentang pasar, dan biasanya berubah ke atas dan ke bawah,” ia terkait dengan gerakan JCI saat ini.
Seperti yang dilaporkan sebelumnya, Indeks Saham Senyawa (CSPI) anjlok 6,12 % atau 395,8 poin menjadi 6,076 poin dalam sesi bisnis I pada hari Selasa (18/18/2025).
Karena penurunan JCI ini, Bursa Efek PT Indonesia (IDX) sementara membekukan sistem perdagangan IDX di 11,19 Jakarta Automatic Trade System (JATS). Transaksi dilanjutkan pada 11,49 Jats Time.
Read More : Cut Intan Nabila Resmi Gugat Armor Toreador
Tim Penelitian Kiwoom Securitas Indonesia (KSI Research) mengatakan tekanan pada JCI, yang saat ini telah anjlok, disebabkan oleh berbagai emosi negatif yang cenderung investor menjadi investor.
Penelitian KSI mengatakan dalam studinya pada hari Selasa (18/03/2025), “Kondisi pasar saat ini masih sangat spekulatif.
Beberapa faktor yang terkait dengan investor termasuk pijat hubungan besar (PHK) dan Morgan Stanley dan Goldman Sachs sebelum Idulfitri -Hollow, dan setelah menyebutkan IHSG Dowgrade, Fitch, S&P dan tingkat kredit Indonesia yang murung. Itu disertakan.
Sebelumnya, beberapa perusahaan besar seperti PT Addis -Dimensional Shoes, PT Yamaha Music Product Asia dan PT Win Ching Luh Indonesia dilaporkan. Gelombang pemecatan ini menyebabkan kekhawatiran di antara investor dan mengurangi kepercayaan pada stabilitas ekonomi.
Di sisi lain, ketika IHSG melemah, Goldman Sachs menjatuhkan peringkat stok Indonesia untuk memasarkan bobot kelebihan berat badan, sementara Morgan Stanley mengurangi pemegang saham Indonesia dengan bobot yang sama dengan bobot rendah pada indeks MSCI. Pengurangan ini menunjukkan bahwa saham Indonesia dianggap kurang menarik bagi investor global.