Moskow, Beritasatu.com – Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan Slovakia telah menawarkan untuk mengadakan pembicaraan mengenai konflik Ukraina. Hal itu disampaikan Putin dalam jumpa pers Kamis (26/12/2024).
Read More : Wami Himpun Royalti Musik Rp 185 Miliar Sepanjang 2024
Presiden Putin mengatakan dia menghargai langkah tersebut dan mengatakan itu adalah pilihan yang dapat diterima.
Putin mengungkapkan, Perdana Menteri Slovakia Robert Fico telah menyatakan kesiapannya menyediakan platform untuk pembicaraan damai mengenai Ukraina. “Kami tidak keberatan dengan hal itu,” kata Putin.
Ia menambahkan, Rusia memandang Slovakia sebagai pihak yang netral.
Kunjungan Perdana Menteri Fico ke Moskow akhir pekan lalu merupakan sebuah langkah maju yang penting. Fico mengatakan setelah bertemu Putin bahwa diskusi mereka mencakup situasi militer di Ukraina dan kemungkinan konflik berakhir dengan cepat secara damai.
Spekulasi mengenai perundingan damai antara Rusia dan Ukraina semakin meningkat sejak Donald Trump memenangkan pemilihan presiden AS pada November 2024. Trump berulang kali berjanji akan mengakhiri konflik di Ukraina begitu ia menjabat.
Rusia telah menyatakan kesiapannya untuk melakukan negosiasi mengenai konflik Ukraina dengan syarat perjanjian tersebut mempertimbangkan realitas regional saat ini. Hal ini termasuk pengakuan Ukraina atas wilayah Donetsk, Luhansk, Kherson, Zaporozhye, dan Krimea yang diduduki Rusia.
Read More : Hamas Terima Resolusi Gaza DK PBB, Tinggal AS Harus Memastikan Israel Patuh
Selain itu, Moskow juga meminta pemerintah di Kyiv untuk membatalkan keinginannya bergabung dengan NATO.
Putin mengutip usulan Presiden AS Joe Biden untuk menunda keanggotaan Ukraina di NATO selama 10-15 tahun pada tahun 2021. Namun, Putin menegaskan bahwa Rusia akan terus menolak keanggotaan Ukraina di NATO sekarang dan di masa depan.
Presiden Volodymyr Zelensky baru-baru ini menunjukkan perubahan sikapnya terhadap konflik tersebut. Dia setuju bahwa konflik dapat diselesaikan melalui negosiasi, meskipun Ukraina tidak mendapatkan kembali seluruh wilayahnya.
Hal ini menandai perubahan besar dalam posisi Zelensky, yang sebelumnya bersikeras bahwa perdamaian hanya dapat dicapai jika Rusia menahan diri untuk tidak mencaplok keempat wilayah tersebut. Posisi ini mengarah pada diskusi tentang konflik Ukraina.