Intan Jaya, Beritasatu.com – Sepekan terakhir, situasi keamanan di Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah memanas pesat. Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) telah melakukan beberapa aksi teroris, antara lain menyerang polisi Hoyam, menembak mati warga sipil, dan membakar gedung sekolah dasar.
Read More : Masjid Agung Al-Azhar Gelar Malam Takbiran Tanpa Pawai Obor
Menanggapi hal tersebut, Irjen Pol Mathias de Fakhiri menyatakan telah mengirimkan pasukan tambahan ke Intan Jaya. Kapolda mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan TNI untuk mendapatkan dukungan transportasi, khususnya helikopter.
“Mereka akan meningkatkan pengamanan jika terjadi gangguan lagi,” kata Kapolsek Fakhiri kepada wartawan, Rabu malam (1/5/2024).
Kapolres mengatakan, aparat keamanan akan diberangkatkan dari Timika dan Jaipura, dengan harapan dukungan helikopter dari TNI segera tersedia.
“Kami berharap mendapat dukungan dari TNI untuk penyediaan helikopter tersebut,” tambah Kapolda Fakhiri. Jika helikopter tersedia, aparat keamanan akan segera bergerak ke Intan Jaya untuk menangani pelanggaran keamanan di kota Suppa.”
Selain itu, Kapolres juga memerintahkan Kapolda Intan Jaya untuk menjaga standar tempat terjadinya pembakaran dan penembakan tersebut.
Kapolda Fakhri mengecam keras aksi pembakaran lembaga pendidikan di Intan Jaya yang dilakukan KKB. Ia mengatakan, pendidikan dan kesehatan masyarakat Papua bisa terhambat dengan tindakan tersebut.
Read More : Cuaca Hari Ini: Awan Tebal Menaungi Kota Besar di Pulau Jawa
“Sekolah dan puskesmas tidak boleh dibakar. Bagaimana masyarakat Papua bisa belajar dan sehat jika fasilitas tersebut dirusak?” dia bertanya
Kapolda Fakhiri meminta bantuan warga Papua di Intan Jaya dalam membantu aparat keamanan mengusir KKB dari wilayahnya, serta menahan diri untuk tidak melakukan kekerasan atau pembakaran fasilitas umum.
Ia menegaskan: “Saya berharap masyarakat tidak mendukung KKB melakukan tindakan kekerasan. Saya yakin masyarakat bisa terancam, tapi sebaiknya menolak tindakan kekerasan tersebut.”
Sebelumnya, pada Selasa (30 April 2024), seorang warga sipil bernama Alexander Parapak (20 tahun) tewas ditembak akibat penyerangan KKB terhadap polisi Homeo. Kasus ini menyusul pembakaran gedung SD Impres Pogapa di Distrik Homeo yang dilakukan KKB.