Aceh, Beritasatu.com – Sistem peringatan tsunami berbasis teknologi yang dikembangkan Indonesia dan kearifan masyarakat lokal patut menjadi referensi bagi negara lain.
Read More : Dipimpin Surya Paloh dan Saan Mustafa, Ini Daftar Lengkap DPP Partai Nasdem 2024-2029
Temili Isabella Baker, Spesialis Teknologi Informasi dan Komunikasi UN ESCAP, mengatakan pengembangan teknologi peringatan bencana yang sesuai dengan kondisi masyarakat sangat berharga bagi dunia.
Ia memuji sistem peringatan dini Indonesia (INA-TEWS) dan inovasi lain yang dikembangkan oleh peneliti muda Indonesia.
Baca juga: Gempa 5,4 Guncang Lampung, Tak Berpotensi Tsunami Temili mengaku kagum dengan inovasi teknologi. Sebab, hal tersebut menjadi landasan penting dalam mengantisipasi bencana tsunami yang mungkin terjadi di Indonesia. Selain itu, masyarakat Indonesia di pulau-pulau tersebut dilatih untuk menanggapi informasi bencana yang sistematis.
Ia mengatakan, hal ini terlihat dari kehadiran masyarakat desa dalam peringatan tsunami, khususnya di pesisir barat. Daerah ini merupakan daerah yang paling terkena dampak tsunami Samudera Hindia tahun 2004.
Termasuk adaptasi yang lebih baik. Peringatan terus dikeluarkan di wilayah yang kekurangan internet atau listrik. (10/10/2018). 11/2024), lapor Antara.
Temili, seorang praktisi di organisasi nirlaba Australia Engineers Without Borders, mendorong negara-negara lain yang mencari pembangunan atau sistem peringatan tsunami yang sempurna untuk belajar dari Indonesia.
Read More : Luhut Minta Prabowo Tak Masukkan Orang Toksik, Begini Respons Gibran
“Saya kira kita bisa belajar banyak dari teknologi dan pengetahuan yang ada di Indonesia baik di tingkat nasional maupun di kawasan.
Konferensi Tsunami Global UNESCO-IOC ke-2 merupakan konferensi yang diprakarsai UNESCO-IOC bersama Pemerintah Indonesia melalui Badan Meteorologi dan Hidrologi (BMKG). Acara tersebut digelar dalam rangka memperingati 20 tahun Tsunami Aceh tahun 2004.
Lokakarya ini mempertemukan lebih dari 1.000 peserta, ilmuwan dan pakar bencana. Peserta berasal dari 54 negara, antara lain Jepang, Amerika Serikat, Spanyol, Italia, India, Bangladesh, Tiongkok, India, dan Komunitas Sadar Bencana Nasional.
Pada konferensi yang diadakan di Banda Aceh, Aceh pada tanggal 10-14 November 2024, para peserta berkumpul dan berpartisipasi aktif dalam diskusi mengenai penguatan teknologi dan strategi mitigasi bencana tsunami berbasis masyarakat.