Jakarta, prestasikaryamandiri.co.id – Selangkah lagi, Indonesia bisa mengirimkan wakil sepak bolanya ke Olimpiade yang akan digelar di Paris tahun ini. Indonesia berpeluang mengulang sejarah di Olimpiade Melbourne 1956 yang menjadi keikutsertaan pertama dan satu-satunya tim sepak bola Indonesia di ajang olahraga tertua di dunia tersebut.
Tak banyak yang mengetahui kiprah tim sepak bola Indonesia di Olimpiade Melbourne 1956. Padahal, pelatih tim nasional (Timnas) U-23 Indonesia, Shin Tae-yong mengaku baru saja diberitahu bahwa Indonesia sudah lolos. . . tim sepak bolanya untuk Olimpiade.
“Saya minta maaf karena saya belum tahu pasti keikutsertaan Indonesia di Olimpiade sebelumnya. Saya dengar terakhir kali mereka tampil di Olimpiade di Melbourne, 68 tahun lalu,” kata Shin Tae-yong dalam konferensi pers sebelum pertemuan. . semifinal melawan Uzbekistan beberapa waktu lalu.
Mengutip dari berbagai sumber, Indonesia berhasil mengirimkan wakilnya ke Olimpiade 1956, setelah meraih kemenangan WO di babak kualifikasi Kawasan Asia melawan Republik China atau Taiwan. Taiwan mengundurkan diri dari kualifikasi setelah panitia penyelenggara memutuskan mereka akan bermain di bawah bendera FIFA, karena bendera Taiwan dilarang.
Setelah melalui babak playoff, Indonesia mendapat bye di babak pertama sehingga langsung lolos ke babak perempat final melawan Uni Soviet yang pada babak sebelumnya menang 2-1 melawan Jerman.
Saat itu Indonesia diperkuat beberapa pemain ternama seperti Maulwi Saelan, Endang Witarsa Dani Ramang Andi Ramang. Indonesia dilatih oleh Antun Pogacnik asal Yugoslavia yang disebut-sebut sebagai salah satu pendiri sepak bola modern di Tanah Air.
Di saat yang sama, Uni Soviet diperkuat oleh para pemain utama Eropa saat itu, seperti Sergei Salnikov, Anatoli Isayev, dan tentu saja kiper legendaris Lev Yashin.
Laga Indonesia kontra Uni Soviet digelar di Olympic Park, Melbourne, pada 29 November 1956. Secara mengejutkan, Indonesia mampu menahan imbang Uni Soviet 0-0, hingga perpanjangan waktu.
Artikel yang diterbitkan FIFA pada tahun 2012 berjudul “Orang Indonesia yang Menginspirasi Meridian 50-an” menceritakan kehebatan Ramang dalam mengganggu pertahanan Uni Soviet. Bahkan, saat itu Ramang hendak berhadapan dengan Laba-Laba Hitam, sapaan akrab Lev Yashin, hingga bajunya harus ditarik lawan.
Saat itu belum ada sistem adu penalti jika pertandingan masih imbang hingga perpanjangan waktu. Alhasil, Indonesia terpaksa melakoni laga ulang melawan Uni Soviet di stadion yang sama, dua hari berselang. Indonesia menang 0-4, lewat gol Sergei Salnikov (dua gol), Valentin Ivanov, dan Igor Netto.
Uni Soviet sendiri akhirnya berhasil meraih medali emas, setelah mengalahkan Bulgaria di semifinal dan Yugoslavia di final. Di saat yang sama, Lev Yashin sendiri dikenang sebagai salah satu kiper terbaik sepanjang sejarah. Nama Yashin pun gagal menjadi peraih penghargaan Ballon d’Or untuk kiper terbaik.
Keberhasilan Indonesia menahan imbang Uni Soviet merupakan salah satu legenda yang seolah menjadi legenda yang diceritakan secara turun temurun oleh para pecinta sepak bola tanah air. Begitu pula dengan kisah legenda Indonesia (masih disebut Hindia Belanda) menjadi tim Asia pertama yang mengikuti Piala Dunia, tepatnya pada edisi 1938 di Prancis.
Kini Marcelino Ferdinand dkk berpeluang mengulangi kisah manis lolos ke Olimpiade Paris 2024 jika mampu mengalahkan Irak U-23 dalam perebutan tempat ketiga Piala Asia U-23 2024, Kamis (2/). 5/2024) Timnas U-23 Indonesia otomatis lolos ke Olimpiade Paris 2024 sebagai wakil dari Asia.
Kemungkinan lolos ke Olimpiade 2024 juga masih terbuka jika Indonesia kalah dari Irak, asalkan bisa memenangi babak kualifikasi bersama wakil kawasan Afrika, Guinea, 9 Mei mendatang. Akankah Garuda Muda memiliki kisah manisnya?