Moskow, Beritasatu.com – Kendaraan udara tak berawak (UAV) Ukraina menyerang gudang senjata Rusia pada Rabu (18/9/2024), menyebabkan ledakan gempa besar.
Read More : Muncul Fenomena Tornado Api Firenado di Tengah Kebakaran Los Angeles, Apa Itu?
Kiev mengatakan pihaknya menghancurkan gudang militer di Toropets, sebuah kota di wilayah Tver Rusia, sekitar 240 mil barat laut Moskow, atau 300 mil dari perbatasan dengan Ukraina.
Operasi tersebut dilakukan oleh dinas keamanan Ukraina bersama dengan intelijen dan pasukan khusus Ukraina.
Seorang pejabat senior di Kyiv mengatakan gudang tersebut berisi rudal Iskander dan Tochka-U, serta rudal jelajah dan senjata. Dia mengatakan serangan itu membakar area seluas empat mil.
Di antara senjata yang dihancurkan adalah rudal jarak pendek KN-23 Korea Utara.
Rusia dan Korea Utara menandatangani perjanjian simbolis pada bulan Juni mengenai bantuan militer antara Moskow dan Pyongyang.
Video dan foto yang belum dikonfirmasi di media sosial menunjukkan bola api besar terbang tinggi ke udara dan beberapa ledakan menggelegar di perairan.
Satelit NASA telah menangkap sumber panas besar yang berasal dari senjata tersebut, dan stasiun pemantauan seismik telah menangkap apa yang menurut detektor merupakan getaran di daerah tersebut.
“Musuh menyerang pangkalan militer di wilayah Toropets,” kata Yuri Podolyaka, seorang jurnalis militer pro-Rusia.
Read More : 8 Penyebab dan Cara Alami Mengatasi Insomnia
“Apa pun yang bisa terbakar di sana akan meledak,” lanjutnya.
Media pemerintah Rusia sebelumnya melaporkan bahwa sejumlah besar senjata konvensional ditemukan dalam ledakan tersebut.
Igor Rudenya, gubernur wilayah Tver, mengatakan bahwa sebuah drone Ukraina telah ditembak jatuh, menyebabkan kebakaran dan beberapa warga dievakuasi. Dia tidak mengatakan api.
Seorang wanita mengatakan kepada Reuters bahwa keluarganya telah dievakuasi dari Toropet.
Besaran ledakan yang ditampilkan dalam video media sosial itu benar adanya, yakni 200-240 ton bahan peledak berkekuatan tinggi. Demikian penjelasan George William Herbert dari Middlebury Institute of International Studies di Monterey, California.