Jakarta, Beritasatu.com – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno menilai film Indonesia berpeluang masuk ke pasar Australia. Sandiaga menilai, industri film Indonesia semakin beragam dan unik.

Read More : Dokter AY Bantah Tuduhan Pelecehan Seksual di Persada Hospital

“Dulu kalau di Korea ada yang namanya drakor (drama Korea), di Indonesia ada yang namanya drahor (drama horor). Tapi sekarang sudah banyak film dengan genre yang berbeda-beda, jadi menurutku film Indonesia punya pengaruh besar. berpotensi menembus pasar global, termasuk Australia.

Sandiaga mencontohkan beberapa film Indonesia yang menunjukkan perkembangan industri film Indonesia. Misalnya, Alih-alih Laen memadukan horor dan komedi, serta drama dan budaya lokal. Sebaliknya Laen ditonton lebih dari 9 juta penonton.

Sandiaga pun menilai film garapan tim produksi Multivision Plus (MVP) Pictures, God Let Me Sin ini merupakan film unik yang mengangkat isu kekerasan terhadap perempuan yang jarang diungkap dalam film.

“Tahun ini, dalam kurun waktu kurang dari setengah tahun, sudah ada tujuh film Indonesia yang meraih lebih dari 1 juta penonton. 70% film yang tayang di bioskop Indonesia disutradarai oleh film lokal dan genre berbeda. Ini buktinya. perkembangan industri film Indonesia,” kata Sandiaga.

Selain bahayanya, Sandiaga juga yakin film yang menampilkan budaya lokal juga akan laris di pasar Australia, khususnya film yang menampilkan budaya Bali. Pasalnya, banyak warga Australia yang sudah mengenal Bali.

“Tempat paling populer bagi warga Australia di Indonesia adalah Bali. Jadi menurut saya film tentang Bali akan mendapat respon yang bagus. Banyak hal yang bisa dieksplorasi lebih jauh oleh sineas Indonesia,” kata Sandiaga.

“Kami di Kemenparekraf siap mendukung dengan berbagai insentif, misalnya mendorong film Indonesia untuk syuting di Australia. Begitu pula dengan sineas Australia yang ingin berproduksi di Indonesia, kami akan memberikan insentif, misalnya izin yang lebih mudah. dan izin kerja,” tambahnya

Read More : Pesona Almira Mencuri Perhatian Netizen, Cucu SBY Menjadi Delegasi Indonesia Mewakili Peru dalam Konferensi AYIMUN 2024

Sementara itu, Duta Besar Australia untuk Indonesia Penny Williams berharap film Indonesia bisa masuk ke pasar Australia. Ia juga mengatakan ada laporan dari Australia yang mengangkat isu industri film Indonesia, khususnya bahayanya.

“Warga Australia tidak hanya menyukai film Hollywood, tapi juga film internasional dan film independen, termasuk film berbahasa asing. Salah satunya film Indonesia. Jadi film Indonesia punya penggemarnya di Australia,” kata Penny.

Ia berharap ke depannya kerja sama antara Indonesia dan Australia semakin erat, khususnya di bidang industri film, seperti perfilman. Tahun ini FSAI akan diselenggarakan di 10 kota yaitu Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Padang, Surabaya, Mataram, Makassar, Manado, Samarinda dan Balikpapan.

Sekadar informasi, tahun ini merupakan edisi kesembilan FSAI. FSAI 2024 juga menandai 75 tahun hubungan bilateral Indonesia dan Australia.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *