Jakarta, Beritasatu.com- Direktur Pelayaran dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan mengunjungi rumah duka ekonom Faisal Basri di Kompleks Gudang Peluru, Tebet, Blok A 60, Jakarta Selatan.
Read More : Strategi Wuling Genjot Penjualan Otomotif 2024: Dua Program Khusus untuk Mobil Listrik dan SUV
Luhut mengaku menghormati pandangan dan argumentasi Faisal Basri meski terkadang berbeda pandangan dalam berbagai aspek.
“Pak Faisal sering memberikan banyak informasi tentang perekonomian Indonesia, termasuk hilirisasi nikel.” Meski terkadang berbeda pendapat, namun saya menghargai setiap pendapat dan argumen yang disampaikannya,” kata Luhut di Jakarta, Kamis (5/9/2204).
Luhut merasa kehilangan atas meninggalnya Faisal Basri. Ia mengungkapkan, pertemuan terakhirnya dengan Faisal Basri terjadi pada tahun 2021, saat Indonesia menghadapi wabah pertama Covid-19.
“Kami terakhir bertemu Pak Faisal pada tahun 2021 setelah berakhirnya Covid-19. Saat itu beliau memberikan kontribusi penting dalam rancangan PPKM (penegakan pembatasan dan kegiatan masyarakat) dari sudut pandang ekonomi.” Kontribusinya membantu kami mempertahankannya. Keseimbangan antara kesehatan dan perekonomian negara, ”ujarnya.
Meski berbeda pandangan, Luhut menyampaikan apresiasi pribadinya kepada Faisal Basri sebagai sosok yang berdedikasi dan jujur. Beliau berkata: “Saya menghormati cara pandang Pak Faisal yang selalu mengutarakan pendapatnya. Jujur, namun rendah hati dan mau mendengarkan walaupun kita berbeda pendapat.
Read More : Siap IPO, Medela Potentia Incar Pertumbuhan Double Digit!
Luhut mengatakan, kepercayaan diri dan kejujurannya dalam debat tersebut menunjukkan karakter kuat dirinya sebagai seorang intelektual. Faisal Basri tidak menjadikan kritik sebagai alat untuk menghancurkan, melainkan membangun. “Bagus sekali, tapi selalu semangat perbaikan. Itu yang membuat saya senang. Kita butuh lebih banyak tokoh seperti Pak Faisal di Indonesia,” ujarnya.
Menurut Luhut, Faisal Basri adalah contoh orang cerdas yang tetap memegang prinsip, meski kerap berbeda pendapat dengan pemerintah. “Indonesia kehilangan seorang pemikir besar. Pak Luhut mengatakan, “Saya berharap pengabdian saya kepada bangsa ini baik.
Faisal Basri, Ekonom Universitas Indonesia (UI) pendiri Institute of Economic Development & Finance (Indef), meninggal dunia pada Kamis pukul 03.50 WIB di RS Mayapada Kuningan, Jakarta. Faisal Basri terkena serangan jantung.