Jakarta, Beritasatu.com – PricewaterhouseCoopers (PwC) Indonesia memperkirakan konsumsi rumah tangga masih akan menjadi penopang pertumbuhan ekonomi pada tahun 2024. Tahun ini, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,2%.

Read More : Polisi: Vadel Badjideh Siap Dikirim ke Kejaksaan

Direktur PwC Indonesia Julian Smith mengatakan kendala dalam mencapai tujuan tersebut adalah penurunan harga komoditas dan kondisi perekonomian Tiongkok, mitra dagang utama Indonesia.

“Konsumsi dalam negeri yang menyumbang 57% PDB Indonesia pada tahun 2023 diharapkan tetap menjadi faktor terpenting dalam mencapai target pertumbuhan ekonomi. Apalagi jika memperhitungkan kenaikan gaji sebesar 8% bagi 3,7 juta PNS serta peningkatan pengeluaran untuk kegiatan terkait pemilu, jelasnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa (18/06/2024).

Julian mengatakan, kemenangan pasangan calon Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka pada Pilpres 2024 dan komitmen mereka untuk melanjutkan beberapa kebijakan pemerintah saat ini menunjukkan iklim investasi yang stabil dan ketidakpastian politik yang berkurang.

Menurutnya, hal ini penting bagi Indonesia untuk mencapai target investasi sebesar Rp 1.650 triliun pada tahun 2024. Setidaknya 50%-nya akan berasal dari penanaman modal asing (FDI).

Julian menjelaskan, pemerintah dapat melakukan beberapa investasi prioritas seperti pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), pengembangan kawasan Batam, Bintan, dan Karimun, serta pengembangan Ibukota Kepulauan (IKN).

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2024 menargetkan pendapatan negara sebesar Rp2.802,3 triliun dan belanja negara sebesar Rp3.325,1 triliun sehingga diperkirakan terjadi defisit sebesar Rp522,8 triliun, ujarnya.

Julian mencatat, ada beberapa sektor yang mencatat belanja seperti pendidikan, perlindungan sosial, kesehatan, dan infrastruktur. Pada tahun 2023, Indonesia mencatat surplus perdagangan sebesar $36,91 miliar, turun 32,22% dibandingkan tahun sebelumnya, terutama disebabkan oleh penurunan harga komoditas global.

Sedangkan inflasi Indonesia pada tahun 2024 diperkirakan berkisar 2,6%. Tantangannya, kata Julian, adalah volatilitas harga pangan dan bahan bakar, serta potensi gangguan rantai pasok global yang berdampak pada harga barang impor.

Read More : Kondisi Medan Jadi Tantangan Evakuasi Korban Tambang Emas Ilegal Longsor di Solok

Nilai tukar USD/rupiah terus menunjukkan tren kenaikan, terutama didorong oleh sikap The Fed yang hawkish dalam mempertahankan kebijakan moneter ketat. Sikap tersebut turut berkontribusi pada pelemahan nilai tukar rupiah yang mencapai level terendah 3,5 tahun di Rp 16.249 per dolar AS pada April 2024.

Julian mengaku tak heran jika Bank Indonesia meresponsnya dengan menetapkan BI rate sebesar 6,25%. Hal ini tidak lain adalah mengatasi perlambatan pasar keuangan global dan mengharapkan tingkat suku bunga yang lebih tinggi dari Federal Reserve.

“Meskipun ada tantangan, Indonesia telah menunjukkan ketahanan terhadap guncangan global dan basis ekonomi yang semakin terdiversifikasi, dan kami berharap dapat memitigasi dampak negatif tersebut, sehingga berpotensi memberikan landasan yang kokoh bagi pertumbuhan berkelanjutan,” jelas Julian.

Di tengah tantangan perekonomian tersebut, jelas Julian, Indonesia masih memiliki tingkat penyerapan tenaga kerja yang tinggi yakni sebesar 69,80%. Salah satu yang tertinggi di antara negara-negara G20, meskipun lebih dari separuh pekerjanya berada di sektor informal.

Selain itu, tambah Julian, kebijakan hilirisasi dinilai akan berdampak positif terhadap peningkatan ekspor produk logam cair.

“Namun, masih terdapat potensi pertumbuhan lebih lanjut yang signifikan dengan memperluas jangkauan produk teknologi tinggi dan memaksimalkan dampaknya terhadap lapangan kerja sehingga dapat membantu memperkuat perekonomian dalam menghadapi tekanan ekonomi eksternal,” tutupnya.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *