JAKARTA, BERITASATU.COM – Pengawas transportasi yang juga menjabat sebagai wakil presiden wilayah Transportasi Indonesia (MTI), Joko Setizorno, tidak hanya meminta pemerintah untuk fokus pada tidak hanya truk (ODOL), tetapi juga sangat tidak dapat dihindari.
Read More : Pergerakan IHSG Terpengaruh Laporan Keuangan Saham Big Banks
Joko mengatakan dalam pernyataan resminya pada hari Selasa (1/7/2025), “pemulihan paksa harus dihapuskan dalam transportasi logistik Indonesia dan harus dimasukkan dalam program nol ODOL, yang saat ini ditangani oleh Kementerian Hukum dan Infrastruktur dan Pembangunan Regional.”
Pernyataan Joko menanggapi pengakuan pengemudi truk dalam sebuah diskusi dengan pengemudi barang di kantor pusat Kementerian Transportasi. Pengemudi mengungkapkan bahwa mereka masih mengalami praktik pemulihan paksa di sepanjang jalan distribusi yang bervariasi.
Pengemudi mengakui bahwa mereka sering dibayar oleh partai yang berbeda, oleh kedua bajingan dan otoritas yang tidak jujur. Jika mereka berhenti sejenak di bahu di jalan setelah gerbang tol, tol yang tidak jujur โโsering meminta uang.
Keluhan serupa juga diceritakan oleh komunitas pengemudi, yang mengatakan mereka sering diberkati oleh Polisi Jalan Raya (PJR) ketika mereka berada di bahu jalan dan penjaga keamanan saat tinggal di seluruh daerah.
Di sekitar pelabuhan Tanjung Priyok, pengemudi harus membayar undangan paksa Rp 100.000 untuk melewati jalur gudang yang melewati area portal desa dengan cap RT lokal.
Joko menjelaskan: “Sayuran terkemuka pengemudi ke pasar harus menetapkan dana terpisah untuk memaksa lima hingga enam dana menjadi enam dana untuk Rp 175.000 dana.”
Read More : OTT di Kalsel, KPK Endus Dugaan Uang ke Orang Kepercayaan Gubernur
Menurutnya, praktik pemulihan paksa tidak melecehkan pengemudi, tetapi juga memiliki dampak besar pada pengusaha transportasi dan pemilik barang. Dia memperkirakan pemulihan paksa dapat berkontribusi pada biaya 15 hingga 20 persen biaya transportasi logistik di Indonesia.
Dia berkata, “Pemulihan paksa dilakukan dari seragam ke seragam ke seragam. Ini telah menjadi praktik sistemik,” katanya.
Data dari Asosiasi Bisnis menunjukkan bahwa truk yang ditahan tinggi dapat menggunakan antara 120 juta RP hingga 150 juta RP per tahun, dan hanya membayar pemulihan paksa. Biaya rata -rata RP mencapai 10 juta per bulan hingga 12 juta rp. Dari proses transportasi hingga pembongkaran, hampir semua poin memungkinkan praktik pemulihan paksa.
“Pemerintah hanya berfokus pada penghapusan ODOL, tetapi sebenarnya belum memperhatikan upaya untuk menghapus pandangan paksa. Akibatnya, biaya logistik di Indonesia jauh lebih tinggi daripada di negara -negara tetangga seperti Thailand,” kata Joko.