Surakarta, Beritasatu.com – Ratusan mahasiswa Universitas Sibelius Marriott (UNS) Surakarta melakukan aksi protes di depan gedung pastoran kampus pada Senin (13/5/2024), memprotes mahalnya biaya kuliah tunggal (UKT). menolak .

Read More : Prediksi Arsenal vs Man City: Duel Seru Tim yang Tengah Moncer

Banyak mahasiswa yang mengenakan jaket kampus mulai berkumpul sekitar pukul 14.00 WIB. Ada pula yang membentangkan spanduk bertuliskan “UNS Trade in Education”, “Komersialisasi Pendidikan”, “Biaya Pendidikan Tinggi”, dan “Grabg Rektor”.

Sesampainya di restoran, mereka ditemui oleh perwakilan kampus yang mengundang mereka ke dalam auditorium untuk berbicara dengan pimpinan kampus. Awalnya para mahasiswa menolak dan mengajak berbicara di luar gedung, namun akhirnya mereka sepakat untuk melanjutkan pembicaraan karena membutuhkan alat presentasi untuk mengungkapkan tuntutannya.

Dalam diskusi tersebut, para mahasiswa bertemu dengan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Sekolah (Plt) UNS Sulu 1, 2, 3 dan 4 yang secara bergantian menjawab pertanyaan dan permintaan mereka. Diskusi berlanjut hingga pukul 16.30.

Beberapa tuntutan yang dibacakan dalam pertemuan tersebut, antara lain peninjauan kembali Surat Keputusan (SK) tarif UKT dan Bantuan Pengembangan Institusi (IPI) di UNS.

Ketua BEM UNS, Agung Lucky Pradita mengatakan, para mahasiswa juga meminta agar UKT kelompok 9 dibatalkan dan harga UKT diturunkan agar lebih terjangkau bagi mahasiswa dari berbagai latar belakang ekonomi.

Selain itu, mereka menuntut agar nilai IP nominal Rp 0 diterapkan untuk memberikan kesempatan kepada seluruh masyarakat untuk memperoleh pendidikan tinggi. Mahasiswa juga meminta agar proses pemilihan calon UKT dan IPI dilakukan secara transparan dengan partisipasi aktif mahasiswa.

“Meminta dan meminta Presiden mengeluarkan keputusan yang melarang pemungutan biaya penggunaan sarana dan pelayanan bagi peserta didik, meningkatkan mutu sarana dan prasarana serta pengalokasian dana berdasarkan Rencana Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa. menciptakan transparansi dan akses oleh masyarakat, serta memudahkan Direktur dalam mengelola hibah UKT,” ujarnya.

Read More : 20 Tahun Tsunami Aceh, Ketua KPI Pusat Ajak Televisi dan Radio Masifkan Edukasi Kebencanaan

Usai perbincangan, Wakil Rektor 2 UNS, Muhtar menjelaskan, tidak ada kenaikan UKT sejak tahun 2016, yang ada hanya penambahan satu golongan pada pemeringkatan besaran UKT tahun 2024.

“Sejak tahun 2016, kita belum melihat kenaikan UKT, hanya ada penambahan angkatan pada tahun 2024. Sejak BKT (Biaya Pendidikan Pertama) naik drastis dari Rp 7 juta menjadi Rp 14 juta, kita hanya punya kelompok.” menjelaskan

Ia mengklaim, kelompok siswa lainnya, kelompok sembilan, merupakan siswa yang orang tuanya mampu secara finansial.

“Misalnya penghasilan orang tua Rp 300 juta, ada yang Rp 200 juta, ada yang Rp 100 juta, itu masuk kelompok kesembilan. Sementara yang pendapatan orang tuanya kurang dari satu, dianggap delapan kelompok. , ” jelasnya

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *