JAKARTA, Beritasatu.com – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melaporkan Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDI Perjuangan (PDI-P) Hasto Christiano telah ditetapkan sebagai tersangka. Lantas siapa sebenarnya Hasto Cristiano dan berapa nilainya?

Read More : Berpaham Radikal, Keluarga Pelaku Serangan Kantor Polisi Ulu Tiram Masih Ditahan

Hasto Cristianto sebelumnya telah beberapa kali diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait dugaan suap lingkungan di Dinas Perkeretaapian (DJKA) di bawah Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Lantas siapa sebenarnya Hasto Cristiano dan berapa nilainya? Berikut ulasan lengkap Hasto Cristianto.

Hasto Kristianto, lahir pada 7 Juli 1966 di Yogyakarta, merupakan salah satu politikus besar Indonesia. Hasto telah mengukuhkan dirinya sebagai sosok setia di dunia politik dan bisnis melalui kerja keras dan pengalamannya yang beragam. Berikut teladan hidup, pendidikan, dan perjalanan karir Hasto Cristiano. Pendidikan dan karir awal

Hasto mengenyam pendidikan dasar dan tinggi di kampung halamannya di Yogyakarta. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah di Gentan, ia bersekolah di SMA Hasto Kolese De Brito Yogyakarta.

Pada tahun 1985, Hasto melanjutkan pendidikan tingginya di Universitas Gadja Mada (UGM), Fakultas Teknik, jurusan Teknik Kimia. Beliau berhasil menyelesaikan gelar Sarjana Teknik pada tahun 1991.

Setelah lulus dari Universitas Hasto, ia belajar administrasi bisnis di Prasetya Mulya Business School di Jakarta, memperkaya keterampilan manajemennya. Pendidikan formal Hasto membantunya mengembangkan keterampilan di berbagai bidang yang mempengaruhi karirnya di dunia bisnis dan politik.

Setelah lulus kuliah, Hasto memulai karir di dunia bisnis. Beliau bekerja sebagai Project Manager di Departemen Pemasaran PT Rekayasa Industri pada tahun 1992 hingga 2002.

Hasto, 36, melanjutkan karirnya sebagai direktur proyek di PT Prada Nusa Perkasa dan semakin terlibat dalam mengelola proyek-proyek strategis nasional. Masuki dunia politik

Setelah aktif dalam kegiatan gereja, Hasto Cristiano mulai tertarik dengan dunia politik. Pada tahun 2002, ia bergabung dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) pimpinan Megawati Soekarnoputri. Dengan pengalaman kepemimpinannya, Hasto langsung diangkat menjadi Wakil Menteri Pembangunan Republik Rakyat Tiongkok.

Pada pemilu 2004, Hasto terpilih menjadi anggota Republik Demokratik Rakyat Korea di daerah pemilihan Jawa Timur antara lain Ngavi, Magetan, Ponorogo, Pakitan, dan Trengalek. Pada tahun 2004-2009, beliau menjabat sebagai anggota Komite VI yang menangani masalah perdagangan, produksi, investasi dan koperasi. Dengan beroperasi di Korea Utara, reputasi politisi yang tertarik pada industri dan ekonomi semakin diperkuat.

Meski gagal memenangkan pemilu kembali pada pemilu 2009, Hasto tetap setia kepada PDIP dan terus berkontribusi pada partai. Selain menjabat sebagai Wakil Sekretaris Partai, ia juga aktif mengikuti pelatihan para pengurus DP agar mereka tetap berada di puncak karir politiknya.

Read More : Protes UKT Mahal, Mahasiswa: Akses Pendidikan Bukan Ladang Bisnis

Karir politik Hasto mencapai puncaknya menjelang pemilu presiden 2014. Pada pemilihan presiden (Pilpres), Hasto dipercaya sebagai koordinator juru bicara tim pemenangan Jokowi-Jusuf Kalla dukungan PDIP. Saat itu, Hasto yang menjabat Wakil Sekretaris Jenderal Partai Rakyat Nasional Ukraina menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab dan sukses memimpin tim pemenangan.

Pasca kemenangan Jokowi-JK pada Pilpres 2014, Hasto ditunjuk sebagai salah satu wakil tim transisi yang bertugas mempersiapkan pemerintahan transisi dari era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla. Sekretaris Jenderal PDIP

Pada tahun 2015, Hasto memberikan tugas yang lebih besar kepada Christiano. Presiden Joko Widodo sempat mempertimbangkan untuk memasukkan Hasto ke dalam kabinetnya, namun Ketua Umum PDIP Megawati Sukarnoputri ingin Hasto fokus pada partainya. Hasto juga ditunjuk sebagai Sekjen PDIP menggantikan Tyajo Kumolo yang menjabat Menteri Dalam Negeri pada 2015 hingga 2020.

Sebagai Sekjen PDIP, Hasto berperan penting dalam mengatur organisasi dan strategi politik partai, sehingga PDIP tetap menjadi kekuatan politik yang solid dan terorganisir di Indonesia. Laporan aset Hasto Cristiano

Hasto Kristianto mempunyai peranan penting dalam dunia politik Indonesia. Pada Pilkada DKI 2012, ia mengalahkan pasangan Joko Widodo (Jokowi) dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan masuk tim pemenangan pada 2014. Dan pemilihan presiden 2019.

Namun, seiring kiprah karier politik Hasto, rincian harta kekayaan Hasto Cristianto hingga kini belum sepenuhnya tercantum dalam Laporan Harta Kekayaan Pegawai Negeri Sipil (LHKPN) yang diserahkan ke Komisi Pemberantasan Korupsi.

Hal ini menarik perhatian setelah KPK menetapkannya sebagai tersangka dan memunculkan spekulasi bahwa pejabat publik wajib mengungkap harta kekayaannya. Kasus suap terhadap anggota PAW (PAW) yang sebelumnya menjerat Harun Masiku.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *