Jakarta, Beritasatu.com – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump (78) ditembak saat berkampanye di Pennsylvania, AS pada Sabtu (13/7/2024) waktu setempat. Dalam kejadian tersebut, Trump berhasil selamat meski telinga dan pipinya berdarah. Namun, salah satu pengikutnya tewas melindungi keluarganya dengan menggunakan tubuhnya sebagai tameng peluru.
Read More : Flyover Madukoro Semarang Jadi Proyek Infrastruktur Pertama yang Diresmikan Prabowo
Ajudan Trump yang meninggal bernama Corey Compatore, 50, mantan kepala pemadam kebakaran.
“Corey mati sebagai pahlawan,” kata Gubernur Pennsylvania Josh Shapiro seperti dikutip BBC, Senin (15/7/2024).
Corey dikenal sebagai sukarelawan di komunitasnya. Sebagai sukarelawan pemadam kebakaran dan insinyur proyek di sebuah perusahaan plastik, Corey selalu memberikan yang terbaik.
Tetangga Corey, Matt Achilles, mengingatnya sebagai orang yang baik dan penuh kasih sayang.
“Kami mungkin tidak sepakat dalam hal politik, tapi hal itu tidak menghentikan dia untuk menjadi teman baik dan tetangga yang baik,” kata Akili.
“Dia memberi kami uang ketika saya di rumah sakit dan selalu datang ke gudang kami. Dia selalu melambai ke arah saya saat saya melewati rumahnya,” kenang Akili.
Read More : Berpaham Radikal, Keluarga Pelaku Serangan Kantor Polisi Ulu Tiram Masih Ditahan
Gubernur Shapiro berbicara dengan istri dan dua putrinya Corey, menjelaskan betapa Corey mencintai komunitas dan keluarganya. Corey juga merupakan pendukung besar Donald Trump.
Dalam kejadian tersebut, dua orang lainnya, David Dutch (57) dan James Copenhaver (74), juga ikut tertembak dan dilaporkan dalam kondisi baik pada Minggu (14/7/2024). Penyerang yang diidentifikasi sebagai Thomas Matthew Crooks (20) ditembak oleh polisi rahasia yang bekerja untuk melindungi mantan Presiden.
Kisah Corey Compatore merupakan cerminan keberanian dan dedikasinya yang tak kenal lelah terhadap keluarga dan komunitasnya, serta menjadi pengingat akan pentingnya persatuan dan perdamaian di tengah perbedaan.