Seoul, Beritasatu.com – Presiden Korea Selatan Yoon Suk-yeol mendapat tekanan dari parlemen pada Sabtu (14/12/2024) usai penerapan darurat militer. Perdana Menteri Han Dak-soo sekarang menjadi presiden sementara Korea Selatan.

Read More : IHSG Sesi I Hari Ini Makin Merana hingga Terjun ke Level 6.900-an

Warga Korea Selatan bersukacita atas pemakzulan Presiden Yoon Suk-yeol. Mereka berkumpul di luar gedung Majelis Nasional di Korea Selatan dan dengan gembira merayakan keputusan parlemen untuk memakzulkan Yoon.

Majelis Nasional Korea Selatan memberikan suara mayoritas untuk pemakzulan Presiden Yoon Suk-yeol.

AP melaporkan bahwa Perdana Menteri Han Dak-soo, orang kedua di Korea Selatan, untuk sementara mengambil alih kekuasaan presiden pada Sabtu malam.

Setelah parlemen dimakzulkan, nasib Presiden Yoon Suk-yeol kini berada di tangan Mahkamah Konstitusi. MK mempunyai waktu hingga 180 hari untuk memutuskan apakah akan mencopot Yun dari kursi kepresidenan atau mengembalikannya ke kekuasaan. 

Jika Yoon Suk-yeol dicopot dari jabatan presiden, Korea Selatan harus mengadakan pemilihan presiden nasional dalam waktu 60 hari sejak keputusan IC.

Presiden Yoon Suk-yeol menjadi sasaran kemarahan rakyat dan parlemen Korea Selatan sejak diberlakukannya darurat militer pada 3 Desember 2024 untuk menghadapi partai oposisi yang kritis terhadap pemerintahannya.

Read More : Media Israel: Balas Dendam Akan Datang

Pemberlakuan darurat militer, yang mempengaruhi kondisi politik, keamanan, dan ekonomi Korea Selatan, menuai kritik, memaksa Yoon untuk membatalkan kebijakannya sehari kemudian.

Parlemen Korea Selatan menggelar sidang pemakzulan Presiden Yoon Suk-yeol pada 7 Desember 2024. Namun tidak kuorum karena partai penguasa memboikot pemakzulan tersebut sehingga Yoon selamat.

Namun pada Sabtu (14/12/2024), Majelis Nasional Korea Selatan kembali melakukan pemungutan suara untuk memakzulkan Presiden Yoon Suk. Hasilnya, parlemen menyetujui pemakzulan Presiden Korea Selatan, Yoon Suk-yeol.

“Ini adalah keinginan mendalam rakyat akan demokrasi, keberanian dan pelayanan,” kata Ketua Majelis Nasional Korea Selatan Woo Won-sik.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *