PARIS, Beritasatu.com – Petinju putri Aljazair Imane Khelif dipastikan meraih medali di Olimpiade Paris 2024, setelah berhari-hari mengalami pengawasan ketat dan pelecehan online atas kesalahpahaman gender. Statusnya di ajang olahraga dunia sempat menimbulkan kontroversi.

Read More : Modus Kasus Pelecehan Seksual di Ponpes, Korban Dijanjikan Soal Rahim

Di perempat final kategori 66kg putri, Khalif mengalahkan Anna Luka Hamori dari Hongaria 5-0. Itu merupakan kemenangan kedua bagi Khalif yang meraih medali perunggu Olimpiade.

Khalif menghadapi pengawasan internasional setelah Asosiasi Tinju Internasional (IBA) mengklaim dia gagal dalam tes kebugaran yang tidak ditentukan pada nomor putri di Kejuaraan Tinju Amatir Dunia tahun lalu. Dia kemudian memenangkan pertarungan pertamanya pada Kamis (1/8/2024) ketika lawannya, Angela Carini dari Italia, meninggalkan ring sambil menangis hanya dalam waktu 46 detik.

Akhir cerita yang tidak biasa ini menyoroti kesenjangan yang sudah mencolok dalam dunia olahraga terkait identitas dan peraturan gender. Hal ini menimbulkan komentar dari selebriti seperti mantan Presiden AS Donald Trump dan penulis Harry Potter JK Rowling yang secara keliru mengklaim Khalif adalah laki-laki atau transgender.

Namun Presiden Komite Olimpiade Internasional Thomas Bach membela Khalif dan petinju Taiwan Lin Yu-Ting pada Sabtu (3 Maret 2024). Pada kejuaraan dunia tahun lalu, Khalif dan Jeremy Lin didiskualifikasi oleh Asosiasi Tinju Internasional setelah gagal dalam tes kebugaran untuk kompetisi putri. AIBA adalah mantan badan pengelola olahraga tinju Olimpiade yang kini dilarang.

“Mari kita perjelas, kita sedang membicarakan tinju wanita,” kata Bach pada hari Sabtu. 

Read More : Jelang Indonesia vs Jepang, Pendukung Timnas: Bismillah Clean Sheet

“Kami memiliki dua petinju yang terlahir sebagai perempuan, tumbuh sebagai perempuan, memiliki paspor perempuan dan berjuang sebagai perempuan selama bertahun-tahun. Itu adalah definisi yang jelas tentang perempuan. Mereka adalah perempuan,” tegas Bach.

Tahun lalu, IBA mendiskualifikasi Khelif karena kadar testosteronnya yang tinggi. “Apa yang kami lihat sekarang adalah sebagian orang ingin mendefinisikan siapa perempuan,” tambah Bach. 

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *