Kediri, Beritasatu.com – Menggunakan tumpukan peralatan besi dan mata gerinda dapat dianggap limbah oleh beberapa orang. Tetapi di tangan Saiful Anwar, seorang penduduk desa Rejomulyo, distrik Pssanten, kota Kediri, Jawa Timur, peralatan itu dikonversi menjadi pisau teratas dengan nilai ekonomi.
Read More : Bareskrim Periksa PT TRPN Soal Pagar Laut di Bekasi
Sebelum Iduladha 2025, urusan kerajinan Knife Saiful dibanjiri oleh berkah. Pisau -rimest melonjak tiga kali dibandingkan dengan hari yang normal.
“Biasanya, hanya satu pisau per hari, tetapi sekarang bisa tiga hingga empat pisau setiap hari,” kata Saiful Anwar ketika dia bertemu selama lokakarya kerajinannya pada hari Rabu (4/6/2025).
Pisau diperintahkan untuk membantai hewan yang dikorbankan. Jenis -jenisnya juga beragam, mulai dari pisau parang, ember, pisau mengelupas dengan pisau dan cincang.
Saiful mengakui, dorongan perintah mulai terasa tiga bulan lalu. Bahkan, sampai akhir Mei atau memasuki Zulhija, ia terpaksa menolak perintah baru untuk waktu produksi yang terbatas.
Read More : Byd Kembali Curi Perhatian Jelang Tokyo Motor Show 2025, Kejutan Apa Yang Disiapkan?
“Saat ini kita harus melakukan lebih dari 100 pisau. Pembeli tidak hanya Kedi, tetapi juga dari luar kota online,” katanya.
Untuk pisau, harga yang ditawarkan bervariasi, dari RP. 70.000 hingga RP. 4,5 juta, tergantung pada ukuran dan jenis bahan yang digunakan. Selain membuat pisau baru, Saiful juga melayani layanan kembali pisau tua.