SLEMAN, BERITASATU.COM – SRI SULTAN HAMENGKU BUWONO X Dengan presiden Organisasi Pemuda Agama yang dihancurkan di lereng Gunung Merapi di Nawang Jagad, Kaliup, Packembinang. Kata Yogyakarta, Senin (1/20/2025).

Read More : Mahalini Mengeluh Sering Meriang Sejak Mei 2024, Netizen: Hamil Enggak Sih?

Para pemimpin Pusat Organisasi Pemuda hadir di Marepi untuk undangan Istana. Ini adalah pertemuan bersejarah setelah 80 tahun. Pada 19 Agustus 1945, Sultan Sri Hamengku Buwono IX juga memanggil dan bertemu para pemuda di gedung Wilis, Kepatahan Yogyakarta untuk berbicara tentang kemerdekaan yang baru saja ia nyatakan.

Sementara itu di Nawang Jagad, Sultan Hamengku Buwono X disertai oleh GKR Mangkubumi, Gustilantic RM Mareli Suryokusumo dan RM Drashya Wironegoro.

Sementara itu, dari organisasi pemuda saat ini, Ketum GP Anor Addin Juhardin, pemuda Katolik Ketum Stefanus Asat Gusma, Ketum Gamki (Pemuda Kristen) Sahat Syaturat, Wakabudhi Wakabudhi (Buddhis Pemuda) dan Presiden Pemuda dan Presiden Pemuda.  

Mereka juga hadir di bidang ideologi Lemhannas Ri Am Putuut Pressoro bersama dengan Herman Haloko, Ichwan Peryana dan Muhammad Fauzi Purnalia yang merupakan mitra GP Anator.

Pertemuan Sri Sultan HB X dan Organisasi Pemuda berjudul “Air untuk Masa Depan Peradaban” yang dilakukan dengan menanam pohon langka seperti Sawo Kecik, Pronajiwo dan Kepel.  

Ada 100 bibit dari pohon yang ditanam langka. Kegiatan ini ditempati oleh KHP Datu Dana Suyasa bersama dengan institusi istana internal Pangkreksa Loka.

Setelah ditanam bersama, Sultan Hamengku Buwono X mengundang orang -orang muda untuk berbicara dengan keluarga di tempat yang sangat romantis. Tempat ini berurusan langsung dengan Gunung Merapi. Waktu yang cerah di sekitar Gunung Merapi memengaruhi percakapan intim.

Sebelum menanam, acara dibuka dengan doa Buddha yang diarahkan oleh Wiryawan. Sri Sultan sangat memuji bagaimana komite dipersiapkan dengan baik.

Read More : Prabowo Undang Pengusaha Besar ke Istana, Ada Gebrakan Ekonomi?

Biasanya, menurut Sultan Hamengku Buwono X, yang digunakan adalah doa kelompok grosir. Namun, pada saat acara, Sultan HB X menegaskan kejutan dengan cara yang baru.

“Memori Hayuning Bawana memiliki filosofi. Pertama, keamanan alam semesta hanya mungkin karena politik manusia. Jika politik rusak, alam semesta juga dihancurkan. Sultan HB X dalam pengamatannya.

Menayu Hayuning Bawana, masih menurut Sultan HB X, dengan istilah UNESCO Pembangunan Berkelanjutan – Pertumbuhan Berkelanjutan. Oleh karena itu, air, pohon dan lingkungan harus disatukan untuk peradaban manusia.

CEO, RM Gustilantika Marrel Suryokusumo, dalam pengamatannya, mengungkapkan gagasan kegiatan penanaman pohon ini.

Mas Merle, sebagaimana disebut keluarga, mengatakan inisiatif kegiatan diprovokasi pada pertemuannya dengan tujuh pemimpin organisasi pemuda Perang Salib di Minomartan, Sleman, Yogyakarta.

Pertemuan itu berlangsung ketika Organisasi Pemuda Interfith melakukan kunjungan yang baik sebelum Natal ke Gereja Kristen Jawa, seorang Minomartan.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *