JAKARTA, Beritasatu.com – Pergerakan Indeks Harga Saham Terintegrasi (IHSG) pada pekan depan akan dipengaruhi oleh sentimen seperti rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan II tahun 2024 dan meningkatnya tensi konflik. di Timur Tengah.

Read More : 80 Rumah di Desa Bedono Demak Rusak Dihantam Gelombang, Agus Salim Harap Uluran Tangan

IHSG pekan depan akan mudah terpecahkan. Secara teknikal IHSG akan bergerak ke 7.208-7.356. Area ini merupakan area persegi kecil dan merupakan area resistance dan support terdekat yang kuat.

Area tersebut juga bisa menjadi target sasaran IHSG ke depan. Jika resistance di 7.356 berhasil ditembus, IHSG berpotensi melanjutkan penguatannya melawan resistance selanjutnya di 7.450, tulis KB Valbury Sekuritas dalam risetnya yang dikutip Senin (5 /8/2024).

Namun jika tembus ke bawah level 7.208, IHSG bisa saja melaju ke area support terdekat berikutnya di 7.100. Sebelumnya, pada penutupan perdagangan Jumat (2/8/2024), IHSG turun 17,86 poin atau 0,24% hingga berakhir di 7.308,1. Namun IHSG pada pekan lalu sebesar 0,27%.

Sementara itu, sebagian besar bursa saham Asia melemah. Indeks Nikkei (Jepang) turun 4,67% dalam seminggu, Hang Seng (Hong Kong) turun 0,45% dan Straits Times (Singapura) turun 1,3%. Hanya Shanghai (Tiongkok) yang berhasil naik 0,5% pada minggu lalu.

Penurunan pasar saham Asia dipengaruhi oleh penurunan tajam pasar saham Amerika Serikat (AS). Pekan lalu, Nasdaq turun 3,35% dan Dow Jones turun 2,1%. Hal ini sejalan dengan sentimen The Fed yang hingga saat ini belum menurunkan suku bunga acuannya.

Sementara itu, Phintraco Sekuritas mengatakan perdagangan Wall Street AS melemah merespons data ketenagakerjaan AS. Nonfarm payrolls turun menjadi 114.000 pada Juli 2024 dari 179.000 pada Juni 2024. Seiring dengan menurunnya penyerapan tenaga kerja, tingkat pengangguran pun naik menjadi 4,3% pada Juli 2024 dari 4,1% pada Juni 2024.

Read More : Pemerintah Tinjau Ulang Pungutan Ekspor Sawit Secara Berkala

Phintraco Sekuritas menulis: “Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa penurunan suku bunga The Fed yang diperkirakan terjadi pada September 2024 akan terlalu lambat untuk mencegah resesi AS pada paruh kedua tahun 2024”.

Selain kondisi perekonomian Amerika Serikat, pasar juga memperhatikan perkembangan isu geopolitik seiring dengan meningkatnya ketegangan antara Israel dan Iran. Harga energi, terutama minyak, diperkirakan akan meningkat dalam beberapa minggu mendatang.

Dari dalam negeri, pasar memperkirakan data pertumbuhan kuartal II-2024 yang akan dirilis awal pekan ini.

โ€œPasar tetap optimis dengan peluang pertumbuhan lebih dari 5% yoy pada periode ini,โ€ kata Phintraco Sekuritas dalam risetnya.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *