Jakarta, Beritu.com – Dewan Pusat (DPP) dari Pusat Bola Basket Indonesia (DPP) lebih suka pengembangan kompetisi bola basket internasional di organisasi baru negara itu pada 2024-2028.
Read More : SYL Bayar 12 Sapi Kurban Pakai Uang Kementan Rp 360 Juta
Ini diungkapkan oleh DPP, presiden Budis Satis Djiwandon pada upacara pelantikan dan pertemuan nasional, Plaza Mandiri, Jakarta, Sabtu (2012-01-20).
“Saya berjanji bahwa saya akan berpartisipasi dalam beberapa kompetisi internasional di negara ini dengan kompetisi dalam kelompok usia seperti 17 tahun, 19 tahun pria dan wanita,” katanya.
Budisatio mengatakan bahwa kehadiran acara internasional di Indonesia sangat penting karena masa depan olahraga bola basket Indonesia dimulai dengan kompetisi kategori tender.
Dia menggarisbawahi impian untuk menarik tim bola basket Indonesia di Olimpiade dan Piala Dunia Senior harus dimulai dengan pengembangan talenta muda selama usia segala usia.
Budisatrio mengatakan dia “kewalahan” oleh kepemimpinannya dari putra dan putri terbaik di negara ini, yang disebut karena cinta untuk olahraga dan bola basket merah dan putih.
Oleh karena itu, optimis bahwa berbagai program strategis, termasuk organisasi acara internasional, dapat diimplementasikan melalui kerja tim yang baik.
“Saya tim yang menurut saya sangat bagus,” katanya.
Read More : Mantan Astronaut Apollo 8 William Anders Tewas Kecelakaan Pesawat
Budis Satis mengatakan bahwa partainya akan mencoba memperkuat hasil olahraga bola basket Indonesia yang telah meningkat dan maju selama kepemimpinannya.
Menurutnya, atlet bola basket Indonesia akan terus didorong untuk dapat mencium bau merah dan putih atau bersaing di berbagai kompetisi, seperti kejuaraan usia, dengan kompetisi profesional seperti Liga Bola Basket Indonesia (IBL).
“Ini adalah cita -cita umum untuk dikembangkan, untuk memberi atlet ringan, nama -nama baru superstar olahraga basket Indonesia,” katanya.
Acara ini dihadiri oleh Menteri Pemuda dan Olahraga Dito Arotedjo, presiden Komite Olimpiade Indonesia (KOI) Raja Salda Oktohari dan presiden Komite Olimpiade Indonesia (KOI) dan presiden Komite Nasional Indonesia (Koni) Marcian Norman.