Kediri, Beritasatu.com – Para pemburu sepatu ketupata di Kota Kediri, Jawa Timur, ramai bersama warga saat perayaan Kupatana. Tradisi memasak ketupat sudah menjadi tradisi yang tidak bisa dipisahkan saat Hari Raya Idul Fitri. Cangkang ketupat dengan berbagai bentuk dan ukuran, dari yang terkecil hingga terbesar, ditawarkan di pasar tradisional.
Read More : Viral Oknum TNI Buang Sampah di Lingkungan Warga, Kapendam Pattimura Minta Maaf
Sumini (69), salah satu pedagang di Pasar Setonobetek, Kota Kediri, mengaku banjir membuat ribuan cangkang ketupat kewalahan setiap harinya.
“Mulai menjelang hari raya terjual 3.000 selongsong ketupata. Lalu pesanan datang lagi dari 2.000 hingga ratusan selongsong sehari,” kata Sumini, Rabu 17/4/2024.
Persediaan ribuan baris ketupat pemenang pun terisi. Untuk memenuhi pesanan, ia menggandeng pengusaha lain yang membuat kotak ketupat.
Pada hari ketujuh Idul Fitri, kata dia, harga ketupat terpaksa naik karena bahan bakunya, yaitu daun kelapa, menipis.
Jika dulu harga cangkang ketupata dijual Rp 10.000 per ikat, kini sudah mencapai Rp 20.000 per bungkus. Satu paket berisi 10 cangkang berlian.
“Hari ketujuh lebaran, perbekalan sudah habis, stok daun kelapa terlambat, padahal senjatanya 500 kupat, hari-hari ini senjatanya jalan,” imbuhnya. .
Read More : Akankah Persib Bandung Pesta Juara di Kandang Malut United?
Hartini, salah satu pedagang ketupata di Pasar Setonobetek Kediri, mengungkapkan keprihatinan serupa dengan semakin menipisnya pasokan bahan baku kakao.
Menurut dia, pengurangan stok melalui ketupat tersebut karena permintaan Paus saat ritual Idul Fitri.
“Perampokan ini biasanya terjadi pada bulan Syawal,” tutupnya.