Jakarta, Beritasatu.com – Pengamat Kebijakan Publik, Ahmad Alamsyah Saragih, memproyeksikan efisiensi anggaran pemerintah untuk dialokasikan untuk program strategis presiden dengan menambahkan anggaran sekitar 100 triliun RP ke Badan Makanan Nasional (BGN) hingga peningkatan irigasi.
Read More : Berhadiah Total Rp 11 Miliar, Piala Presiden Diikuti 2 Klub Luar Negeri
Alasannya adalah bahwa untuk Program Nutrisi Gratis (MBG), dikatakan bahwa Alamsyah hanya memiliki dana PR. 70 triliun. Dengan demikian, mempercepat distribusi program MBG tentu membutuhkan biaya, keputusan dianggap “tidak menyenangkan”.
“Salah satunya sedang memotong beberapa pos di kementerian, untuk bergerak sebanyak mungkin untuk meningkatkan BGN 100 triliun RP, sehingga juga dimungkinkan untuk mendorong pembiayaan untuk dimasukkan dalam program ini, beberapa triliun mungkin diperlukan untuk rantai pasokan,” jelas Ahmad Alamsyah Saragih ketika Beritu.com (9/2025).
Menurut Alamsyah, Prabowo adalah angka yang berfokus pada makanan untuk meningkatkan produktivitas, tentu saja, subsidi pupuk dan perbaikan irigasi diperlukan. Kegiatan ini membutuhkan biaya atau anggaran yang cukup tinggi.
Inilah yang membuat Prabowo memutuskan untuk mengeluarkan kebijakan efisiensi anggaran dari kementerian tertentu. Selanjutnya, pengurangan anggaran mencapai Rp 306,9 triliun di agen anggaran dan dialokasikan untuk ketiga pos, seperti anggaran BGN meningkat, pembiayaan UMKM dan rantai pasokan dan peningkatan produktivitas pangan.
“Ekonomi diharapkan bekerja dengan biaya pemerintah yang paling efektif. Ukuran efektif itu sendiri adalah untuk memenuhi keterlibatan dengan orang -orang,” katanya.
Read More : Rido Raih Dukungan dari Bang Japar Pimpinan Fahira Idris
Bahkan, ada dua posting utama yang diarahkan oleh Prabowo, yaitu memotong dengan pembelian RP. 256.1 triliun dan potong alokasi dana transfer di wilayah (TKD) 50,59 triliun rp. Kebijakan ini melibatkan pemangkasan di 16 stasiun pembelian dengan jumlah yang berbeda, mulai dari 10% hingga 90%.
Kebijakan efisiensi anggaran tidak hanya mencakup biaya besar, seperti infrastruktur atau biaya bantuan sosial, tetapi juga kartu pos yang secara langsung terkait dengan kegiatan administrasi dan operasional kementerian/lembaga.
Misalnya, posisi anggaran untuk penulisan kantor (TAK) dikurangi menjadi 90%, posisi aktivitas upacara mengalami penurunan 56,9%. Selain itu, publikasi untuk pertemuan, seminar dan kegiatan serupa juga mengalami efisiensi anggaran hampir 45%.