Tangerang, Beritasatu.com – Pengamat pendidikan Darmaningtyas menolak Ujian Nasional (ONU) sebagai standar kelulusan siswa di Indonesia. Ia juga mengusulkan Evaluasi Nasional (EN).

Read More : Jeremy Teti Ungkap Penyebab Batu Ginjal yang Dideritanya Selama 4 Tahun

“Saya salah satu yang menolak UN sebagai standar kelulusan. Namun kita memerlukan Sistem Penilaian Nasional (EN),” jelasnya dalam kelompok diskusi (FGD) “Blocking Sistem Pendidikan Indonesia” di Kantor B-Universe , Pantai Indah Kapuk (PIK) 2, Kabupaten Tangerang, Banten, Selasa (12/11/2024).

Di sisi lain, Darmaningtyas menilai Asesmen Nasional (NA) yang digagas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim tidak bisa dilaksanakan di Indonesia karena kondisi geografis.

Pasalnya, dia mengaku AN hanya menunjukkan. AN belum terselesaikan secara menyeluruh sehingga tidak bisa dijadikan acuan yang tepat.

“Kritik saya terhadap Asesmen Nasional (AN) itu samplingnya. Karena keragaman geografis kita saat ini, kita tidak bisa,” lanjutnya.

Namun, pria berusia 62 tahun itu menyarankan agar AN diperbaiki. Oleh karena itu, terdapat kebutuhan untuk mengambil langkah-langkah yang tepat untuk mengukur standar pendidikan nasional.

Read More : Israel Desak Mossad Singkirkan Pemimpin Hamas

“Kita tidak harus beralih sepenuhnya ke UN, tapi ke Asesmen Nasional yang disempurnakan. Kita bisa mengukur standar pendidikan nasional, tapi tidak berpengaruh pada kelulusan,” ujarnya.

Sebagaimana diketahui, Ujian Nasional dilaksanakan bagi seluruh siswa kelas akhir mulai dari kelas 6 dan seterusnya, III SMP, III SMA/SMK/MA. AN hanyalah sampel dan bukan kelas akhir.

Sedangkan EN yang dibahas Darmaningtyas dapat diterapkan di kelas 5, 8, dan 11 untuk semua siswa dan tidak hanya sampel seperti AN.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *