Jakarta, Beritasatu.com – Direktur Pendidikan sekaligus Presiden Emtek Digital Media Institute (IMDE), Totok Amin Soefijanto memberikan penjelasan penting mengenai kurikulum yang diterapkan dalam dunia pendidikan Indonesia. Menurutnya, dalam mempertimbangkan kurikulum yang ada saat ini, perlu diperhatikan kesiapan pihak yang melaksanakan kurikulum tersebut, termasuk kesiapan guru dan kepala sekolah, agar perubahan tersebut dapat diterima dengan baik.

Read More : Korban Jiwa Banjir Bandang dan Longsor di Kabupaten Luwu Jadi 14 Orang

Permasalahan yang paling umum terjadi pada kurikulum baru adalah perbedaan implementasi undang-undang antara pusat dan daerah. Totok mengatakan dalam wawancara dengan Beritasatu.com beberapa waktu lalu, “Apa yang diperintahkan dan pusat ini belum tentu terlaksana dengan baik. secara lokal.

Totok meyakini keberhasilan penerapan kurikulum bergantung pada kenyamanan dan kemauan guru, kepala sekolah, dan penyelenggara dalam menangani perubahan. Menurutnya, Kurikulum Merdeka belum diterapkan dengan baik di banyak daerah yang masih menggunakan Standar Standar Pendidikan (KTSP).

“Saya sering melihat sekolah di Kalimantan Timur masih menggunakan KTSP. Padahal kita sudah menerapkan kurikulum Merdeka. Ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan dalam pendidikan, terutama dalam penerapan inisiatif baru seperti kurikulum ini. “Semua pelaksana rencana di lapangan, termasuk guru, kepala sekolah, dan administrator, akan merasa nyaman dengan perubahan ini,” tambahnya.

Totok juga menekankan pentingnya mempertimbangkan sistem pendidikan di Indonesia yang tidak hanya bertumpu pada administrasi, namun juga pada kualitas dan kesiapan yang berguna ketika diterapkan di lapangan.

Read More : Jalur Gentong Ramai Lancar Sabtu Pagi, Potensi Kemacetan Tetap Ada

“Kalau kita mau evaluasi kurikulum, pertanyaannya apakah pelaksana nyaman dengan kurikulum tersebut. Kalau tidak, mereka mencari cara untuk ‘membalikkan’ kurikulum. Mereka bisa bilang kurikulum baru belum diterapkan, tapi di dalam praktiknya mereka terus menggunakan sistem yang mereka sukai.

Totok juga mengatakan, Kurikulum Merdeka akan terus direvisi seiring berjalannya waktu. Namun, ia mengingatkan jika perubahan tersebut tidak dibarengi dengan pelatihan yang memadai, maka penerapan sistem pendidikan di Indonesia akan tetap bermasalah.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *