Jakarta, Beritasatu.com – Ilmuwan di Afrika Selatan menyuntikkan radioaktivitas ke cula badak. Mengutip CNN, Sabtu (29/6/2024), radioaktivitas disuntikkan ke dalam cula 20 badak sebagai bagian dari proyek penelitian yang bertujuan mengurangi perburuan liar.

Read More : Kemenkes Bersyukur Polemik Pemberhentian Dekan Unair Berakhir

Suntikan cula badak dengan radioaktif diharapkan dapat membantu pihak berwenang menindak perburuan liar dan penyelundupan hewan.

Menyuntikkan radioaktivitas ke dalam cula badak tidak dilakukan untuk merugikan pemburu liar dan penyelundup hewan. Sebaliknya, tanduk bermuatan radioaktif tersebut merupakan upaya para ilmuwan dan pemerhati lingkungan untuk melacak pergerakan hewan yang terancam punah.

“Kami melakukan ini untuk mencegah penyelundupan cula badak melintasi perbatasan. Tindakan pencegahan dapat diambil karena adanya jaringan pemantauan radiasi internasional yang dirancang untuk mencegah terorisme nuklir,” kata James Larkin, salah satu ilmuwan Afrika Selatan yang memimpin proyek tersebut. .

Saat ini ada 20 badak yang disuntik dengan bahan radioaktif, menurut CNN. Badak ditemukan di Cagar Alam Rumah Kaca Kenya.

Menurut Organisasi Internasional untuk Konservasi Alam, populasi badak global yang tercatat pada awal abad ke-20 mencapai 500.000 individu. Namun perburuan liar dan tingginya permintaan ilegal menyebabkan jumlah badak terus menurun. Saat ini hanya tersisa 27.000 badak di dunia.

Afrika Selatan memiliki populasi badak terbesar, sekitar 16.000 ekor. Sayangnya, kejadian perburuan badak sangat tinggi di kawasan ini. Lebih dari 500 badak dilaporkan dibunuh setiap tahunnya.

Read More : Kabar Bahagia, Hwang Bora Melahirkan Anak Pertama

“Kita harus melakukan sesuatu yang baru dan berbeda untuk mengurangi perburuan liar. Anda tahu, Anda akan melihat jumlah tersebut meningkat,” kata James Larkin.

Sementara itu, Profesor Nithaya Chetty, peneliti dari Universitas Witwatersrand Afrika Selatan, mengatakan radioaktivitas yang disuntikkan ke cula badak sangat aman. Dosisnya sangat rendah dan potensi efek buruknya pada hewan telah diuji secara menyeluruh.

“Langkah ini bisa dilakukan untuk mencegah perburuan satwa lain,” harapnya. 

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *