Makassar, Beritasatu.com – Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) menyerahkan sepenuhnya penanganan banjir dan tanah longsor ke tingkat TNI-Polari menyusul banjir yang terjadi di beberapa kabupaten di Sulawesi Selatan.

Read More : Peringatan Hari Santri, Pjs Bupati Sleman Serukan Santri Jadi Teladan dan Agen Perubahan

Hal tersebut dibawa langsung oleh Plt Gubernur Sulsel Bakhtiyar Baharuddin di rumah dinasnya, Jalan Sungai Tangka, Kota Makassar, Rabu (8/5/2024).

Meski tak membeberkan alasannya, Bakhtiyar menyampaikan apresiasi atas dukungan jajaran TNI dan Polari, serta seluruh instansi dan relawan yang terlibat dalam penanganan banjir dan longsor yang terjadi di beberapa wilayah Sulsel. Khususnya di Luvu, Wajo. dan Kabupaten Sidrap.

Kapolda Sulsel Irjen Andy Ryan dan Pangdam XIV Mayjen Hasanuddin Bobby kerap turun langsung ke lokasi bencana untuk memimpin, mendampingi, dan mengatur upaya penyelamatan pascabanjir dan longsor.

“Sampai saat ini perkembangan penanganannya semakin membaik. Beberapa hari terakhir penertiban di wilayah tersebut dipimpin oleh Kapolda bersama Pangdam. Mereka berhasil melakukan penetrasi ke wilayah tersebut, terutama yang kemarin diisolasi,” Dia berkata.

Bahtiyar mengungkapkan, mobilisasi logistik masih bergantung melalui udara dengan menggunakan helikopter milik Polda Sulsel dan TNI AU, karena banyak penghubung jalan yang terputus akibat banjir dan tanah longsor.

Hilangnya akses jalan menghambat pengiriman dan evakuasi bantuan logistik.

“Sebenarnya ada enam jembatan yang roboh karena banyaknya longsor,” ujarnya.

Kendati demikian, bantuan yang diberikan TNI-Polari cukup besar sejak hari pertama banjir melanda tujuh kabupaten di Sulsel pada Jumat (3/5/2024). Selain mengerahkan personel untuk membantu mengevakuasi warga, rekonstruksi jalan dan jembatan yang rusak akan menjadi prioritas pemerintah provinsi. Pihaknya memerintahkan Dinas PUPR Provinsi Sulawesi Selatan berkoordinasi dengan Dinas Jalan dan Jembatan Kementerian PUPR bekerja sama dengan TNI untuk mempercepat perbaikan jalan dan jembatan.

“Maka TNI-Polar bersama rekan-rekan relawan di daerah dan lembaga lain termasuk Kementerian Pekerjaan Umum, provinsi dan kabupaten bekerja keras bagaimana jembatan itu bisa dibangun secepatnya,” ujarnya.

Read More : H-3 Lebaran, Arus Mudik di Kalimalang Bekasi Mulai Ramai

Bakhtiar juga mengungkapkan, banjir dan tanah longsor merupakan rangkaian bencana yang pernah terjadi sebelumnya.

Menurut dia, wilayah terdampak banjir dan longsor dulunya merupakan wilayah rawa yang dijadikan pemukiman warga.

“Wilayah ini mungkin tadinya rawa, mengalami erosi dan kemudian menjadi pemukiman warga. Jadi ketika banjir besar kemarin terjadi, tidak bisa bergerak lebih jauh,” ujarnya.

Sementara itu, warga korban banjir mengeluhkan kurangnya air bersih sehingga memanfaatkan air limbah untuk membersihkan rumahnya dari lumpur yang dibawa banjir.

Bakhtiar mengatakan permasalahan air bersih sudah ditangani dengan baik. “Sumur warga banyak yang lumpur, makanya alhamdulillah kami mencoba strategi pengelolaan air bersih,” ujarnya.

Diketahui, bencana banjir bandang khususnya di Kabupaten Luvu memakan korban 13 orang dan ratusan warga mengungsi menuju posko dan keluarga yang tidak terdampak.

Ia menyimpulkan, “Saya meminta surat kematian agar saya bisa mendapatkan hak atas layanan dari pemerintah. Kami merawat semua yang terluka dan memberikan pengobatan gratis.”

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *