JAKARTA, Beritasatu.com- Jadwal kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia pada 3-6 September 2024 membangkitkan antusiasme berbagai kalangan untuk bertemu dengan pemimpin tertinggi umat Katolik itu. Pemahaman tentang sisi lain Paus Fransiskus diungkapkan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Indonesia untuk Takhta Suci (Vatikan), Michael Trias Kancahione.

Read More : Didukung Anak Haji Lulung, Pramono-Rano Optimistis Menang Telak di Tanah Abang

Pada Kamis (29/8/2024), Dubes yang akrab disapa Trias itu meninjau buku Paus Fransiskus, Paus Rakyat, bersama penerbit Sindikat Palmyra Menara Kompas, Jakarta.  

“Saya tidak berani bilang akan menulis biografinya. Tidak! Karena tidak mungkin,” kata Trias, mantan jurnalis Harian Kompas.  

Treas berpendapat, menulis biografi tokoh besar seperti Paus Fransiskus membutuhkan waktu yang lama dan intensitas yang besar untuk bertemu dengan kepribadiannya. Buku berjudul Fransiskus, Paus untuk Rakyat ini merupakan pemahaman penulis terhadap kepribadian Paus Fransiskus. Trias memang sudah beberapa kali bertemu dan berinteraksi dengannya.

Dalam buku Fransiskus, Paus untuk Rakyat, Paus Fransiskus digambarkan sebagai orang yang sederhana. Dia menolak tinggal di istana kepausan, lebih memilih tinggal di apartemen sederhana di dalam apartemen. Paus Fransiskus sering kali berterus terang, spontan, humoris, dan rendah hati.

“Dia (Paus Fransiskus) memiliki iman yang otentik,” kata Treas yang juga wakil pemimpin redaksi Harian Kompas. Duta Besar Indonesia untuk Tahta Suci (Vatikan) Michael Treas Cancahione, Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh, memaparkan resensi buku Paus Fransiskus, The Pope to the People. – (DOK/Khusus)

Keinginan mendalam Paus Fransiskus untuk mengubah dunia, menyebarkan nilai-nilai dan meninggalkan dunia yang lebih baik bagi masyarakat merupakan ancaman bagi mereka yang ingin mempertahankan status quo.

Namun itulah yang disukai orang-orang dari Paus.

Dalam kata pengantar buku setebal 340 halaman itu, Kardinal Ignatius Suharjo mengatakan, alangkah baiknya jika gagasan dan pemikiran Paus Fransiskus dipelajari, dipahami, dan dicari cara untuk dipraktikkan. Gagasan tersebut antara lain mencakup tanggung jawab untuk menjaga alam dan agar semua orang memandang satu sama lain sebagai saudara dan saudari.

“Jadi bukan sekedar kunjungan Paus Fransiskus, tapi cara mempelajarinya, memahaminya dan mencoba melakukannya,” tambah Kardinal Sahario.

Paus asal Argentina ini telah mengubah cara pandang orang terhadap Gereja dan dunia. Kardinal Jorge Mario Bergoglio telah memilih jalan perubahan sejak terpilih menjadi Paus Fransiskus (2013).  

“Misi Paus Fransiskus sederhana – untuk menyebarkan pesan Injil keselamatan,” tulis Trias.

Read More : Jepang Bangun Superkomputer 1.000 Kali Lebih Kuat

Paus Fransiskus kurang memperhatikan dogma dan hierarki gereja, namun percaya pada kontak pribadi. Paus Fransiskus berharap dapat mendorong jemaat dan komunitas yang sehat dengan berfokus pada manusia.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan buku Paus Fransiskus “Pope to the People” tidak hanya memberikan informasi tentang kepribadian Paus sebagai pemimpin Katolik dunia, tetapi juga memberikan cerita tentang kepausan.

“Dia (Paus Fransiskus) bukan tokoh politik, tapi tokoh moral,” tambah Treas yang mengatakan Paus Fransiskus selalu berbicara tentang perdamaian dan selalu berdoa untuk daerah yang terkena dampak konflik.

Menurut Trias, Paus Fransiskus juga sangat menjunjung tinggi Pancasila, yaitu mendukung Ketuhanan Yang Maha Esa, mengakui kemanusiaan, memperjuangkan keadilan sosial dan rasionalitas.

“Itu (Pancasella) sangat dihormati oleh Paus (Francis),” imbuhnya.

Trias melihat hubungan Indonesia-Vatikan membaik, apalagi Paus Fransiskus menjadi Paus ketiga yang mengunjungi Indonesia.

Selain itu, Treas mengatakan Vatikan telah menjalin hubungan diplomatik dengan 184 negara. Namun, Paus belum mengunjungi semua negara tersebut, termasuk Argentina, negara kelahiran Paus Fransiskus.

Buku Fransiskus “Paus kepada Rakyat” adalah salah satu dari beberapa buku karya Michael Treas Concahonyo. Karya-karya alumni FISIP UGM antara lain Paus Yohanes Paulus II Musafira dari Polandia; Yerusalem: Kekudusan, Konflik dan Pengabdian; peziarah; Jalur Gaza: Tanah Perjanjian, Intifada, Pembersihan Etnis; Lapangan Tahrir: Jantung Revolusi Mesir; bulan sabit, di atas Bagdad; Pengakuan Iman, cerita tentang manusia dan peradaban; Bukti no. 2: dan hikmah di zaman tonjolan halaman.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *