JAKARTA, Beritasatu.com – Anggaran ketahanan pangan sebesar 124,4 triliun dolar dalam Rancangan Perimbangan dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2025 diyakini perlu fokus pada belanja pembangunan infrastruktur dasar pertanian.

Read More : IHSG Selasa 27 Agustus 2024 Dibuka di Zona Merah

Eliza Mardian, analis pertanian di Pusat Reformasi Ekonomi (CORE), mengatakan bahwa pemerintahan baru berikutnya perlu mengevaluasi pengeluaran pemerintah saat ini untuk ketahanan pangan.

“Apakah anggaran sebesar itu bisa efektif meningkatkan produksi dan kapasitas produksi pangan dalam negeri kita? Ya, tergantung jenis pengeluarannya,” kata Eliza kepada Beritasatu.com, Rabu (21 Agustus 2024).

Ia mengingatkan, pemerintah saat ini menghabiskan sebagian besar anggaran pangannya untuk belanja jangka pendek, seperti subsidi pupuk, pinjaman mesin pertanian (alintan), gudang, bahkan subsidi bunga pembelian gabah dari pemerintah.

“Iya kalau kita lihat misalnya Kementan, kalau kita lihat belanja Kementan hampir 80% dihabiskan untuk pembelian barang-barang yang bersifat consumable seperti bibit, peralatan, mesin, ini adalah bantuan khusus,” katanya.

Eliza menilai pemerintah harus lebih fokus pada belanja berkelanjutan, terutama penyediaan infrastruktur yang memadai dan memadai bagi para pelaku industri pertanian. Ia mengatakan, tingkat belanja pangan yang dialokasikan untuk infrastruktur dasar masih kecil.

Read More : Tak Terkalahkan, Timnas Basket Indonesia Lolos FIBA U-16 Women’s Asia Cup

“Jadi rencana pokoknya yang kita bicarakan dalam pembelanjaan ini, tapi jangan berikan bantuan perorangan, karena kalau petani diberi pupuk misalnya, mereka mendapat bibit, tapi kalau irigasi bisa. tidak ada air untuk tanaman. Cuma tidak bisa tumbuh,” jelasnya.

Eliza mengatakan, jika pemerintahan berikutnya terus menggunakan metode dan praktik yang sama seperti sebelumnya, berapa pun dana yang dialokasikan untuk ketahanan pangan dari APBN, hal itu tidak akan meningkatkan produk pangan.

“Karena yang dibutuhkan sektor pertanian adalah infrastruktur seperti irigasi, cold storage, jalan pembibitan dan teknologi baru untuk menghasilkan benih yang produktif, cepat dan tahan terhadap perubahan iklim,” tutupnya.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *