Jakarta, Beritasatu.com – Demokrasi yang membawa manfaat penting bagi warga negara harus tetap dipertahankan. Pemerintah sebagai penguasa politik harus mengambil keputusan yang mendukung keinginan dan kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan kerja hati-hati dalam pemerintahan untuk menjaga keseimbangan kekuasaan dan kesehatan demokrasi itu sendiri.

Read More : Diisukan Jadi Mensesneg di Kabinet Prabowo, Muzani: Sekarang Saya Ketua MPR

Pengamat politik Universitas Al-Azhar, Ujang Komarudin menjelaskan kelebihan dan kekurangan negara tanpa oposisi. Menurutnya, banyak partai politik yang mendukung Prabowo untuk memaksa pemerintah mengambil keputusan dan melaksanakan program pemerintah.

“Kita memerlukan pemerintahan yang kuat. Artinya pemerintahan Pak Prabowo-Gibran harus didukung banyak partai koalisi, kata Ujang dalam wawancara eksklusif dengan Beritasatu.com, Sabtu (28/09/2024).

Namun, negara juga perlu memiliki oposisi yang kuat dan stabil untuk memantau aktivitas pemerintah, menyeimbangkan kekuasaan, dan memperjuangkan kesuksesan bagi orang-orang di luar persemakmuran.

“Pada saat yang sama, kita membutuhkan oposisi yang kuat dan tangguh, untuk memberikan kesempatan kepada partai oposisi untuk memperjuangkan kepentingan bersama di luar parlemen,” jelas Ujang.

Lebih lanjut Ujang mengatakan, oposisi harus merupakan kelompok yang kuat dan stabil, namun banyak kelompok yang tidak bisa dipaksa menjadi oposisi. Menurutnya, pihak lawan kerap menghadapi berbagai tantangan hukum.

“Tentu saja alasan oposisi harus kuat dan kuat karena berkali-kali mereka ikut campur dan mencari masalah hukum. Itu sebabnya banyak kelompok yang ragu menjadi partai oposisi, tambahnya.

Pada era kepemimpinan Presiden terpilih Prabowo-Gibran, hanya Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang tetap berada di luar pemerintahan koalisi. Namun, dia tidak menutup kemungkinan PDIP ikut serta dalam kampanye Prabowo.

Read More : Fokus pada Keselamatan dan Penertiban, Menko AHY Siap Tingkatkan Pelayanan Transportasi Nasional

“Sekarang Anda lihat di pemerintahan berikutnya banyak kelompok yang bersatu. Dari delapan partai yang masuk parlemen, tujuh di antaranya berdiri bersama dan hanya tersisa PDIP. Saya melihat PDIP juga berpotensi bergabung dengan Koalisi Indonesia Progresif, kata Ujang.

Tanpa oposisi yang kuat, terdapat ketakutan bahwa pemerintah akan menggunakan kekuasaannya tanpa pengawasan yang kuat, sehingga berisiko terhadap kebijakan, termasuk korupsi. Jika ini terjadi, maka akan sangat kuat dan sulit untuk ditolak. Kebijakan-kebijakan tersebut tidak lagi ramah terhadap masyarakat, sehingga berdampak pada tertindasnya kebebasan berekspresi sehingga masyarakat tidak mempunyai kesempatan untuk menyampaikan kekhawatirannya.

“Jika tidak ada oposisi, itu adalah poin penting. “Di masa depan, kekuasaan terkadang bisa menyesatkan, apalagi jika tidak dikendalikan,” tegasnya.

Sebagai penutup, Ujang menegaskan, jika situasi memerlukan non-perlawanan, maka elemen masyarakat seperti masyarakat sipil, media, sekolah, pelajar, dan lembaga swadaya masyarakat harus berperan penting dalam menjaga kepemimpinan internal pemerintah. sesuai dengan prinsip.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *