Pangkalpinang, Beritasatu.com – Di Desa Labu, Provinsi Bangka, Provinsi Bangka Belitung, terdapat tradisi unik yang diturunkan secara turun temurun yaitu nirok atau mancing dengan tombak.
Read More : Apakah Musik Karya AI Masuk dalam Nominasi AMI Awards 2024?
Tradisi ini tidak hanya sekedar kegiatan memancing, namun merupakan bentuk sosialisasi yang mempererat tali silaturahmi antar masyarakat.
Dalam rangka memperingati HUT RI ke 79, tradisi nirok ini diadakan sebagai sebuah perlombaan yang menarik perhatian seluruh masyarakat. Imam, ketua panitia acara, mengatakan kompetisi ini diadakan sebagai bentuk pengakuan terhadap warisan budaya.
Baca juga: Harta Karun Logam Langka yang Tersembunyi di Bangka Belitung, Masih Belum Ditemukan “Alhamdulillah kita risau di bulan kemerdekaan ini. Kelihatannya kebahagiaan sederhana, dimanjakan saja,” kata Imam, Sabtu (24/8/2024).
Untuk melaksanakan tradisi nirok, masyarakat membawa tirok, yaitu alat berbentuk tombak yang terbuat dari kayu pelawan. Ujung besinya tajam, dan panjangnya sekitar tiga meter. Melalui alat ini populasinya turun ke perairan yang populasinya mulai berkurang akibat musim kemarau sehingga memudahkan penangkapannya.
Ikan-ikan seperti gabus, bekicot, talam, baung dan kemaron menjadi mangsa utama acara ini. Pisang juga menjadi sasaran karena dianggap sebagai makanan khas masyarakat setempat.
Read More : Hasil Borneo FC vs Persija: Kalah lagi, Macan Kemayoran Kian Terpuruk
“Tradisi ini sudah ada sejak zaman nenek moyang kita, apalagi saat musim air tiba, sekarang adalah waktu yang tepat untuk memancing,” kata Imam.
Kompetisi ini tidak hanya untuk hiburan masyarakat setempat, tetapi juga sebagai upaya menjaga alam. Dalam tradisi nirok, lingkungan tidak dirusak, karena cara ini bersifat alami dan ekologis.
“Tradisi nirok merupakan warisan budaya masyarakat Bangka Belitung yang patut dilestarikan. Tradisi ini memiliki keunikan filosofi gotong royong dan persatuan,” kata Imam.