Jakarta, Beritasatu.com – Rizki Fabian dan Mahalini Raheja berencana menikah pada Rabu, 8 Mei 2024. Persoalan perbedaan agama telah menjadi persoalan pernikahan kedua bagi masyarakat Indonesia. Rizki Fabian pun buka suara terkait hal tersebut.
Read More : 5 Film Kartun Anak yang Cocok Ditonton Saat Libur Lebaran
Jumat (3/5/2024) Praz Teguh bertanya kepada Rizki Fabian di channel YouTube-nya: “Apakah kamu berbeda agama atau bagaimana? Mohon maaf karena ini menjadi pertanyaan banyak orang.”
“Ya, benar,” katanya.
Rizki Fabian tak memungkiri, isu keimanan di Indonesia merupakan isu yang sensitif dan masih tabu.
“Jadi kebetulan saya dan Leeni (alias Mahlini Raheja) senang karena kami berdua membicarakan masalah ini bersama-sama dari awal,” ujarnya.
Putra komedian Sule ini paham, jika menjalin asmara dengan orang berbeda keyakinan, pasti akan terjadi bentrokan hebat. Apalagi, begitu Iky disapa, ia merasa kedua keluarga memiliki keyakinan yang kuat.
“Kita harus ingat karena kita ingin melarikan diri, tapi kita punya kastil yang sangat besar dan sangat tinggi,” ujarnya.
Rizki Fabian mengaku tak ingin memaksakan kehendak agar pasangannya mengikuti keyakinannya.
“Hanya saja, alhamdulillah, aku selalu serius menjalaninya dari waktu ke waktu. Aku juga tipe orang yang tidak pernah memaksa pasanganku untuk mengikuti keyakinan yang aku pilih karena aku sangat sensitif terhadap hal itu,” lanjutnya. .
Read More : Kunjungan Kerja di Karawang, Presiden Jokowi Panen Ikan Nila
Ia memilih menyerahkan segalanya pada Tuhan demi pasangan yang datang kepadanya. Sebab, Iky memahami menjadi manusia berarti melakukan kehendak Tuhan.
“Maka dari itu, kita fokus mewujudkannya saja. Karena saya yakin Tuhan pasti dan tidak pernah menolak untuk memberikan hadiah kepada hamba dan belahan jiwanya.”
“Karena segala sesuatunya pasti ada artinya. Makanya saat itu saya berpikir bahwa kami akan terus melanjutkan apa pun yang akan terjadi di masa depan. Saya yakin keputusan di atas akan baik bagi kami berdua.”
Rizki bersyukur atas kerja sama orang tua Fabian yang tidak mempermasalahkan perbedaan keyakinan.
“Mereka sangat terbuka dalam hal ini dari pihak keluarga. Selain itu, orang tuanya lebih memikirkan kebahagiaan anak-anaknya dan orang lain. Jadi, kami sama-sama berpikiran terbuka untuk menjalani semuanya.”