Jakarta, Beritasatu.com – Program makan siang dan susu gratis dinilai sebagai terobosan dalam melahirkan generasi emas Indonesia di tahun 2045. Pasalnya, mendukung kesenjangan sosial.

Read More : 203 Jemaah Haji Sidrap Terkatung-katung di Jeddah, Kemenag: Jangan Berhaji Tanpa Visa

Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kiai Haji Marsudi Suhud mengatakan kesejahteraan masyarakat harus dibangun dengan kehadiran negara untuk meningkatkan kualitas kehidupan bermasyarakat.

Salah satu caranya adalah dengan makan siang dan susu gratis, yang sering disalahartikan oleh para kritikus sebagai pemborosan program.

Kritikus harus melihat realitas kehidupan masyarakat, bahwa kesenjangan sosial memerlukan pembangunan yang tidak hanya siap merespons, tapi tidak sekadar merespons, kata Marsudi dalam keterangan publik di Jakarta, Jumat 26/4/2024.

Untuk itu, ia berharap menjaga ketersediaan pangan bagi anak sekolah dan generasi muda menjadi budaya atau praktik sosial di masa depan. Apalagi mereka merupakan tumpuan dan garda terdepan dalam pembangunan penduduk Indonesia yang berkualitas.

Marsudi menjelaskan, generasi muda atau Gen Z akan menjadi kelompok umur terbesar yang menentukan masa depan Indonesia.

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJPN) 2025-2045, delapan proyek menuju Indonesia emas memposisikan pemuda tidak hanya sebagai objek tetapi juga sebagai subjek pembangunan, sehingga harus dibarengi dengan bibit-bibit unggul.

Oleh karena itu, kata Marsudi, anak-anak Indonesia yang kini baru lahir atau sedang belajar di usia muda harus mendapat gizi yang cukup agar menjadi generasi hebat.

โ€œSampai menjadi role player, merekalah pemeran utama Indonesia Emas 2045,โ€ ujar guru Pondok Pesantren Darul Uchwa Ekonomi.

Marsudi mengatakan, Indonesia beruntung memiliki Presiden dan Wakil Presiden terpilih Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka yang bertugas menjaga kesejahteraan masyarakat sebagai prioritas pembangunan.

Read More : Isu Politik Terkini: Kronologi Kecurangan RK-Suswono Dibongkar Warganet hingga Kotak Kosong Menang Pilkada Bangka dan Pangkalpinang

Hal tersebut, menurut Marsudi, merupakan rencana pembangunan negara kesejahteraan yang menempatkan warga negara sebagai kekuatan sosial sebagaimana diatur dalam UUD 1945.

Selain kecukupan gizi, lanjutnya, hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah sarana prasarana pendukung pembelajaran, karena sekolah bukan sekadar proses datang dan pergi di sore hari.

Marsudi mengatakan, karena anak akan berangkat dan dalam perjalanan, maka infrastruktur fisik dan sosial seperti tersedianya keamanan dan ketertiban menjadi penting.

โ€œDengan bersekolah, tidak hanya sekedar memperoleh ilmu, tetapi mengembangkan sumber daya manusia yang berkualitas melalui pendidikan moral dan sosial, yang akhir-akhir ini kurang pasca reformasi,โ€ jelasnya.

Oleh karena itu, Marsudi mengatakan dengan memandang Pancasila sebagai pedoman hidup bangsa, maka sudah seharusnya menjadi batasan sosial untuk membentuk perilaku Generasi Emas 2045.

Dalam hal ini, ia menilai perilaku masyarakat juga perlu mendapat perhatian khusus untuk melompati pembangunan guna menciptakan pedoman sosial agar Indonesia tetap menjadi negara santun dengan semangat gotong royong.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *