Jakarta, Beritasatu.com – General Motors (GM) mengumumkan akan menghentikan bisnis taksi robot dan menghentikan pendanaan untuk unit mobil self-driving Cruise yang merugi. Sebaliknya, GM akan fokus mengembangkan sistem bantuan pengemudi semi-otomatis seperti Super Cruise untuk kendaraan pribadi.
Read More : Pabrik Baru BYD di Subang Akan Buka 18.000 Peluang Kerja Baru
AP melaporkan pada Rabu (12/11/2024) bahwa keputusan tersebut diambil karena membutuhkan waktu dan sumber daya untuk meningkatkan bisnis robotaxi di tengah persaingan pasar yang ketat. GM juga mengatakan akan menggabungkan tim teknik Cruise dengan tim internalnya untuk mengembangkan teknologi bantuan pengemudi yang lebih canggih.
General Motors sebelumnya mengakuisisi Cruise Automation Control pada tahun 2016 untuk membangun armada sumbu robotik yang menguntungkan. Namun meski menginvestasikan miliaran dolar dan membeli 90 persen perusahaan, GM masih mengalami kerugian besar.
Berdasarkan laporan pemegang saham, layanan Cruise Robotaxi mengalami kerugian operasional lebih dari $10 miliar sejak tahun 2016, dibandingkan dengan pendapatan yang kurang dari $500 juta.
Pada awalnya, pendapatan tahunan GM Cruise ditetapkan mencapai US$1 miliar pada tahun 2025. Namun, pada tahun 2023, izin Cruise untuk beroperasi di California ditangguhkan menyusul kecelakaan di San Francisco di mana mobil self-driving Cruise menabrak pejalan kaki. Insiden ini juga menyebabkan perombakan manajemen besar-besaran di Cruise, yang memangkas seperempat tenaga kerjanya.
Read More : Transgender Isa Zega Ibadah Umrah, Anggota DPR Mufti Manam: Segera Tangkap Dia
CEO General Motors Mary Barra mengatakan unit baru ini akan fokus pada pengembangan teknologi mobil penumpang self-driving dalam kondisi tertentu. GM juga berencana membeli sisa saham Cruise untuk mendapatkan kendali penuh atas perusahaan tersebut.
Ketika General Motors keluar dari bisnis taksi robot, Waymo dari Alphabet Inc dan Tesla terus mengembangkan teknologi otonom. Waymo memperluas layanan robotaxi-nya ke berbagai kota di AS, sementara Tesla berencana memperkenalkan layanan robotaxi tanpa pengemudi pada tahun 2026.