Jakarta, prestasikaryamandiri.co.id – Pemerintah meminta semua pihak berhati-hati namun tidak bereaksi terhadap situasi konflik Iran dan Israel.
Menteri Perekonomian Airlanga Hararto mengatakan pemerintah terus memantau perselisihan tersebut. Banyak negara juga yang menahan diri agar dampak konflik tidak meluas ke negara lain.
“Kami tidak memerlukan reaksi karena dari sudut pandang Iran sendiri, dia menolaknya, menteri luar negerinya mengatakan dia bukan dari Israel, jadi kami ikuti saja dan kami tidak memerlukan reaksi,” kata Air Longa. Kantor Kementerian Hubungan Perekonomian pada Jumat (19/4/2024).
Ia mengatakan negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat, telah menyatakan tidak ingin ikut campur. Yordania, Mesir, dan Arab Saudi akan berupaya menghindari eskalasi konflik lebih lanjut. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres mendesak semua pihak untuk menahan diri dan berusaha mengendalikan situasi yang memburuk.
“Negara-negara lain di Timur Tengah juga tidak tertarik, jadi semua orang mundur.” “Kami hanya menonton saja dan tidak bereaksi,” kata Airlanga.
Konflik ini dikhawatirkan akan berdampak pada perekonomian, khususnya harga komoditas dan nilai tukar. Oleh karena itu, pemerintah terus mengambil sejumlah langkah agar konflik di Timur Tengah tidak berdampak buruk terhadap laju perekonomian nasional.
“Kalau kita hanya mengikuti saja, yang penting pesanannya tergantung supply dan demand. “Jadi dalam situasi seperti ini kalau tidak ada keperluan beli dolar, jangan beli, karena kita harus mengurus kebutuhan di masa depan,” jelas Air Langa.
Pemerintah sedang mengkaji upaya-upaya sebelumnya untuk memitigasi dampak konflik Rusia-Ukraina terhadap perekonomian Indonesia. Apalagi saat perang Rusia-Ukraina, juga saat pandemi Covid-19. Dalam hal ini, pemerintah akan meningkatkan peran Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk mengurangi dampak konflik geopolitik.
“Perang paling dahsyat terjadi di Ukraina akibat Covid-19, terjadi embargo pangan sehingga kenaikan harga komoditas dan harga minyak tidak terkendali. Kita bisa mengendalikannya dengan mekanisme yang ada. “Supply chain kita jaga, pasar ekspor kita jaga, lalu APBN kita jadikan shock absorber,” kata Air Langa.