Jakarta, Beritasatu.com – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menyoroti keputusan pemerintah Indonesia untuk menggalakkan industri kendaraan listrik (EV) dengan konsep ramah lingkungan, terutama dengan mentransformasikan nikel sebagai bahan baku baterai kendaraan listrik.

Read More : Mengekor Mata Uang Asia, Rupiah Terkoreksi pada Awal Sesi Selasa 3 September 2024

โ€œSudah ada inisiatif pemerintah untuk membangun industri ramah lingkungan, dengan pembatasan dan pajak emisi karbon yang akan diterapkan tahun ini, serta larangan pembangunan pembangkit listrik tenaga batu bara baru,โ€ kata Luhut Binsar Pandjaitan di Jakarta. di hari Jumat. (3/5/2024 ) dikutip Antara.

Ia menjelaskan, langkah ini diambil untuk memastikan industri pengolahan nikel di Indonesia bisa lebih ramah lingkungan, mengingat masih banyak smelter yang menggunakan batu bara sebagai bahan bakarnya.

Namun, ia menyadari keberhasilan program transformasi hijau ini bergantung pada ketersediaan modal yang antara lain diperoleh dari pendapatan ekspor nikel olahan dan penanaman modal asing untuk membangun smelter.

Ia juga menyayangkan protes para senator AS terhadap produk ekspor nikel Indonesia terkait permasalahan lingkungan akibat penggunaan batu bara di smelter.

Dalam artikel yang dimuat di situs majalah Polisi Moror pada 1 Maret, Luhut menyebut tindakan tersebut dapat memblokir akses nikel bagi industri kendaraan listrik di Amerika Serikat, dimana Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia.

โ€œUntuk mengurangi emisi secara signifikan di Amerika Serikat, penggunaan kendaraan listrik harus ditingkatkan. Sektor transportasi merupakan penyumbang emisi terbesar di negara ini, sementara kurang dari 1% kendaraan di Amerika Serikat saat ini menggunakan kendaraan listrik,โ€ ujarnya. . .

Read More : Jokowi Perkenalkan Prabowo pada Pembukaan Pertemuan Tingkat Tinggi WWF 2024

Dia yakin protes tersebut tidak hanya berasal dari masalah lingkungan hidup, namun juga terkait dengan perdagangan dan persaingan untuk mendapatkan pengaruh antara Amerika Serikat dan Tiongkok.

Meski industri nikel dan kendaraan listrik di Indonesia sudah mendapat investasi dari perusahaan China, ada juga investasi dari Korea Selatan bahkan Amerika Serikat.

Luhut menegaskan, jika Amerika Serikat memutuskan untuk menghentikan impor nikel dari Indonesia hanya karena partisipasi negara lain dalam industri tersebut, maka hal tersebut bertentangan dengan pernyataan Menteri Keuangan AS Janet Yellen yang menyatakan bahwa sekutu AS di Indo-Pasifik tidak harus memilih antara China. dan Amerika Serikat. Amerika.

“Indonesia ingin menjalin kemitraan dengan semua pihak. Pemerintah AS mau bergerak bersama untuk menciptakan masa depan yang lebih ramah lingkungan atau tidak, terserah mereka. Namun, Indonesia tidak akan menunggu selamanya,” ujarnya.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *