Jakarta, Beritasatu.com- Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melaporkan kelebihan belanja (SAL) tahun anggaran 2023 sebesar 459,5 triliun. Angka tersebut turun dibandingkan posisi SAL pertama tahun 2023 sebesar Rp 478,9 triliun.

Read More : Fokus Tingkatkan Kualitas dan Keterjangkauan, Anggaran Kesehatan dalam RAPBN 2025 Dialokasikan Rp 197,8 Triliun

“Setelah mempertimbangkan Silpa (kelebihan pendanaan) dan penyesuaian SAL, maka SAL final tahun 2023 sebesar Rp459,5 triliun,” kata Menteri Keuangan Sri Mulyani saat rapat paripurna di gedung DPR, Jakarta, Kamis (4 April). /7/2024).

Ia mengatakan SAL merupakan instrumen penting dalam pengelolaan APBN sebagai perlindungan keuangan yang efektif dalam menghadapi krisis ekonomi global. Dengan adanya SAL, pemerintah dapat melakukan penghematan anggaran untuk melakukan langkah mitigasi guna mengurangi tekanan perekonomian global.

“SAL berperan dalam melindungi APBN dan perekonomian Indonesia dari berbagai guncangan, tekanan, dan ketidakpastian lingkungan global dan domestik pada tahun 2024,” kata Sri Mulyani.

Sedangkan dana pemerintah per 31 Desember 2023 berupa aset sebesar Rp13.072,8 triliun, Rp9.536,7 triliun, dan Rp3.536,1 triliun. Peningkatan simpanan pada tahun 2023 tanpa penilaian aset ini merupakan yang pertama kali sejak penerapan pelaporan keuangan berbasis akrual. Hal ini tidak terlepas dari kinerja penerimaan yang baik yang diikuti dengan belanja pemerintah yang lebih tinggi.

Dikatakannya, realisasi pendanaan pada tahun 2023 sebesar 356,7 triliun atau 74,32% dari rencana APBN sebesar 479,9 triliun. Implementasi pendanaan ini mengalami penurunan sebesar Rp 234,3 triliun atau 39,65% dibandingkan pendanaan pada tahun 2022. 

Read More : Kinerja Telkom di Bawah Proyeksi Analis

Pada saat yang sama, penurunan defisit dan pembiayaan secara signifikan meningkatkan nilai Surat Berharga Negara (SBN), sehingga menurunkan imbal hasil bunga. Selain itu, spread (perbedaan) suku bunga AS dapat dikurangi karena suku bunga global yang lebih tinggi (higher).  

Dengan hilangnya pembiayaan, ada Silpa Rp 19,4 triliun, turun signifikan dibandingkan Silpa 2022 Rp 130,6 triliun. Pengurangan Silpa menunjukkan kesediaan pemerintah untuk mengikuti rekomendasi DPR agar pelaksanaan APBN lebih efektif dan efisien, ujarnya.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *